Tol JKT-Merak Tidak Bebas Hambatan, Aksi Naik dan Turun Penumpang Pemandangan Biasa

Ruas Jalan Tol JKT-MERAK / DZIKI

SERANG, BANPOS – Istilah bahwa jalan tol berarti jalan bebas hambatan dikarenakan kendaraan beroda empat atau lebih bisa melaju dengan kecepatan tinggi agar bisa mencapai tujuan lebih cepat dibandingkan melewati jalan biasa, hanyalah bahasa kiasan saja.

Pasalnya, seperti di Jakarta yang memiliki banyak ruas tol, baik di dalam kota maupun tol lingkar luar (pinggir Jakarta) hampir setiap hari menampilkan pemandangan yang mencenangkan, dimana ribuan kendaraan roda 4 dan lebih terjebak macet di dalam ruas tol, yang semestinya bebas hambatan. Padahal, pengguna jalan tol sudah mengeluarkan biaya yang tidak murah untuk melintasi jalan tersebut.

Bergeser ke ruas tol lingkar luar (pinggir Jakarta) khususnya tol Jakarta – Merak, dimana diketahui memiliki panjang lintasan 72 KM, juga tampak jauh dari kata bebas hambatan.

Selain sering terjadi kemacetan akibat penyempitan jalan kendaraan yang ingin keluar gerbang tol Tangerang dan BSD, tampak masih ada orang yang menyebrang di dalam lintasan, sehingga membahayakan pengendara kendaraan yang menggunakan jalan tol tersebut.

Seperti yang terjadi pada selasa (19/2/2019) malam lalu, dimana seorang perempuan tanpa identitas tewas mengenaskan karena seluruh tubuhnya hancur dan terpisah, setelah terlindas sebuah kendaraan yang melintas di Jalan Tol Tangerang-Merak Kilometer 69. Adapun diduga, penyebab kecelakan itu setelah korban nekat menyebrang di jalan tol.

Dikutip dari Suara.com, Kanit Laka Lantas Ditlantas Polda Banten Ipda Pujiyanto menuturkan di kawasan Kilometer 69 memang sering banyak bus nakal yang menaik-turunkan penumpang di bahu jalan tol. Imbauan petugas pun tidak pernah dihiraukan oleh sopir bus dan penumpang nakal.

“Sudah sering diimbau oleh kita, PJR namun demikian masih ada yang berpikir praktis dengan mengabaikan keselamatan sendiri,” katanya.

Meski ada upaya untuk menertibkan sopir bus, untuk tidak menurunkan atau menaikan penumpang di jalan tol, namun faktanya masih saja pemandangan tersebut kembali terjadi.

Baru-baru ini Jurnalis Bantenpos.co, tanpa sengaja mengabadikan dimana beberapa bus antar provinsi sengaja berhenti dibahu tol tepatnya daerah Gorda, sebelum gerbang tol Ciujung, Kragilan, untuk menaiki puluhan penumpang yang diketahui dari pekerja pabrik, Kamis (4/4/2019).

Meski dilarang, tampak sejumlah calon penumpang berhamburan saat akan naik bus di bahu jalan tol JKT-Merak / RULIE SATRIA

Bahkan, tampak ada beberapa orang yang sengaja mengatur penumpang untuk menaiki bus tersebut, dengan imbalan uang dari sang kondektur bus.

Pemandanagan sejumlah penumpang yang hendak akan naik bus di bahu jalan Tol JKT-MERAK. Tampak juga beberapa orang yang mengatur penumpang dengan imbalan uang dari kondektur bus.

Saat ditanyakan ke salah satu penumpang wanita yang telah naik bus mengatakan, jika pemandangan tersebut sudah sudah tidak asing lagi.

“Setiap sore, selepas bubaran pabrik memang seperti itu mas. Penumpang-penumpang itu kalau mau pulang dan naik bus, yaa.. disitu naiknya. Adapun tarifnya RP5.000 per-orang,” ujar penumpang yang mengaku turun di Serang.

Tidak hanya itu, selepas bus menaiki penumpang dan kembali lanjutkan perjalanan, ada juga beberapa penumpang yang meminta turun di bahu tol. Seketika bus langsung berhenti menurunkan penumpang.

Lagi-lagi pemandangan tak wajar terlihat, dimana terdapat tembok setinggi badan orang dewasa berdiri kokoh sebagai pembatas jalan tol dengan lahan masyarakat dapat dilalui oleh penumpang menggunakan tangga yang sengaja disiapkan oleh orang yang telah menunggu dibalik tembok.

Jika diamati, tampak penumpang tersebut merogoh kantung celananya untuk mengambil sejumlah uang untuk membayar kepada orang yang telah menyiapkan tangga jalan tersebut.

Memang sungguh ironis jika melihat pemandangan diruas jalan tol Jakarta-merak, istilah kata bebas hambatan pada jalan tol tersebut tak tampak adanya. Keselamatan bagi pengendara penguna jalan tol sewaktu-waktu dapat mengamcam dirinya. Karena, masih ada bus-bus yang berhenti untuk menurunkan maupun menaikan penumpang.

Lalu, pertanyaan besar timbul dari kita semua sebagai pengguna jalan tol. Dimana petugas jalan tol Jakarta – Merak? Apakah mereka tutup mata dengan penampakan kondisi tersebut? Atau sebaliknya, mereka juga bermain dengan kondisi tersebut?. (RUL)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: