Waspada Penumpang Gelap di Pilpres, Ormas Al-Khairiyah Ajak Perangi Hoax

Ketua Umum Pengusus Besar (PB) Al-Khairiyah Ali Mujahidin

CILEGON,BANPOS- Pemilu  adalah agenda rutin hajat bangsa Indonesia yang biasa dilaksanakan lima tahun sekali.  Sebelumnya pelaksanaan pemilu dirasa aman dan damai saja. Namun di Pemilu yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019 mendatang justru diwarnai berbagai profokasi dan isu negatif yang dapat dapat memecah belah bangsa Indonesia.

Ketua Umum Pengusus Besar (PB) Al-Khairiyah Ali Mujahidin menyampaikan himbauan menghadapi pelaksanaan Pemilu mendatang agar masyarakat untuk jeli dan waspada karena diduga kuat ada “penumpang gelap” yang menunggangi salah satu pasangan calon presiden pada Pemilu 2019 ini.

“Tujuan Penumpang gelap tersebut tidak penting Capres yang di tungganginya menang atau tidak, karena tujuan utamanya bukan memenangkan Capres yang seolah didukungnya tapi lebih ingin agar bangsa Indonesia chaos, kisruh, gaduh dan ingin merusak system NKRI, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika dan merusak UUD 1945,” kata Mumu saat dikonfirmasi, Minggu (31/3/2019).

Mumu menyebutkan ciri-ciri penumpang gelap tersebut antara lain,  kelompok ini dibiayai kelompok dan orang-orang luar Negeri (bukan negara) tapi hanya kelompok dan perorangan yang punya kepentingan terhadap Indonesia atau kecewa.

Karena tidak bisa memanfaatkan indonesia untuk syahwat mereka, kata Mumu seperti syahwat intervensi ekonomi, intervensi politik, intervensi sistem pertahanan dan keamanan negara dan syahwat-syahwat lainnya yang ingin merusak Indonesia.

“Ciri selanjutnya yaitu pihak yang berupaya membenturkan masyarakat melalui isu sara, primordial, mengadu domba antar anak bangsadan gencar menggelontorkan isu agama, penistaan ulama, isu pemerintah dzalim, isu syariat Islam, isu system khilafah dan isu lainnya untuk merusak sistem yang sudah kokoh di Indonesia,” kata Mumu.

Ciri ke-tiga berupaya menyerang akal dan fikiran anak bangsa dengan cara Terror mainset  media sosial menjadi ciri ketiga.

Mumu menjelaskan karena melalui media sosial dianggap biaya murah atay low cosh dengan gencar menebar Hoax, Ghibah, Namimah, dan Fitnah dengan mencari kesalahan-kesalahan pemerintah dan pemimpin bangsa dengan platform atas nama agama.

“Tujuan semua itu untuk merasuki akal dan fikiran anak bangsa bahkan mereka seringkali membully dan mengolok-olok orang yang tidak sependapat dengan mereka melalui medsos, dengan target agar orang-orang yang tidak terpengaruh menjadi minder meski pendapatnya benar,” kata Mumu.

Ciri ke-empat diduga kuat berada pada kelompok orang islam garis keras dan diduga subur pada kelompok wahabi, organisasi terlarang, dan lebih mudah disebut dengan kelompok ‘Neo Khawarij’, karena polarisasi gerakanya sama persis dengan kaum ‘Khawarij’ yang punya historycal memecah belah ummat Islam.

“Ciri ke-lima cenderung keras, intoleran, dan senantiasa mencari celah agar Pemilu 2019 ini kisruh, dan gaduh bahkan mendorong ke arah terjadinya pertikaian sesama anak bangsa seperti halnya yang terjadi saat jaman para tabi’in dan kejadian pertikaian di negara lain seperti suriah, mesir dan sebaginya,” kata Mumu.

Mumu mengajak masyarakat ber-satu merapatkan barisan amankan bangsa dan negara, amankan Pemilu 2019, waspadai dan hindari pasangan Capres yang ditunggangi mereka dan abaikan serangan Hoax, ghibah, namimah.

Menurut Mumu, fitnah yang selalu disebarkan dan membuat mereka merasa gagal merusak bangsa Indonesia yang punya satu kesatuan yang kuat dan tidak tergoyahkan oleh Capres yang di tunggangi kelompok yang menjual-jual atas nama agama dan khilafah itu.

“Mereka sengaja menyerang atas nama agama demi kekusaan, agar bangsa yang beragama ini canggung dan takut salah jika melawan mereka karna mereka sesunggunya diduga adalah Musang berbaju agama,” tegas Mumu.

Mumu mengingatkan dengan mengutip Ibnu Rusdy mengatakan. “Jika kalian ingin menguasai orang-orang bodoh maka gunakanlah isu agama,” pungkas Mumu. (LUK)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: