Penyair Banten Bedah Buku “Cara Menuang Air Teko ke Dalam Gelas”

Suasana acara bedah buku karya Encep Abdullah yang berjudul Cara Menuang Air Teko ke Dalam Gelas di Sekretariat Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (#Komentar) di Pasar Sore, Desa Singarajan, Kabupaten Serang, Minggu (17/3) / DZIKI OKTOMAULIYADI

SERANG, BANPOS – Berprofesi sebagai seorang guru, nyatanya tak menyurutkan semangat Encep Abdullah untuk berkarya melalui sebuah tulisan berbau sastra hingga menjadi sebuah buku.

Kali ini pria kelahiran Pontang, Kabupaten Serang tersebut kembali menerbitkan bukunya yang ke delapan Berjudul “Cara Menuang Air Teko ke Dalam Gelas” yang dikupas langsung oleh salah satu penyair Banten Yudi Damanhuri, di Sekretariat Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa, Kampung Pasar Sore, Desa Singarajan, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Minggu (17/3/2019).

Meski sama-sama berprofesi sebagai guru, Yudi menilai sosok Encep merupakan salah satu pegiat sastra yang mempunyai daya intelektual dengan menuangkannya ke dalam tulisan dan tak jarang menjadi daya tarik media cetak maupun elektronik untuk menerbitkan beberapa tulisannya.

“Sebelum saya mengenal Encep Abdullah sebagai kakak tingkat di kampus yang juga satu komunitas di Kubah Budaya. Sebuah ruang hangat yang diisi oleh orang-orang yang mencintai kebudayaan terutama kesusastraan. Walau tidak rutin bersinggungan, saya sering menemukan potongan dirinya untuk tidak menyebutkan gagasan yang tak remeh temeh itu di berbagai media cetak baik lokal maupun nasional, baik dunia nyata pula dunia maya,” ujar Yudi.

Yudi menyebut, jika Encep merupakan seorang yang terus berjuang dalam memperjuangkan eksistensinya dalam dunia kepenulisan hingga saat ini.

“Encep memosisikan diri sebagai pelaku, seseorang yang mengalami asin-pahit perjuangan eksistensi di dunia kepenulisan. Walau ada dialog imajiner yang klise, saya rasa masih relevan untuk disajikan bagi pembaca seperti saya, atau orang-orang yang berkecimpung di instansi pendidikan yang sejagat dengan Encep Abdullah, yang memiliki kemauan tinggi untuk menulis dengan sedikit tindakan atau hanya berdiam diri,” ucapnya.

Lebih lanjut Encep menjelaskan, bahwa penerbitan buku tersebut terinspirasi dari perkataan dia sendiri saat berbicara di depan anak asuhnya di komunitas, kemudian kata-kata itu muncul begitu saja, walaupun di dalam buku tersebut sedikit menyinggung tentang bagaimana proses kreatif menulis, namun semua itu tak lebih dari sebuah hiburan semata.

“Buku yang hendak anda baca ini hanyalah semacam ocehan, tips, sindiran, guyonan, atau hiburan semata dan mungkin saya akan membawa anda kepada sesuatu hal yang menjengkelkan,” pungkasnya. (ZIK)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: