Kemungkinan Tersangka Bertambah, Dikrimsus Polda Banten Dalami Kasus Pungli RSDP

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Banten Kombes Pol Abdul Karim / RULIE SATRIA

SERANG, BANPOS – Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Krimsus) Polda Banten terus mendalami kasus dugaan pungutan liar biaya mengurus jenazah tsunami yang terjadi beberapa waktu lalu yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Dradjat Prawiranegara (RSDP) Kabupaten Serang.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Banten Kombes Pol Abdul Karim ditemui awak media di Mapolda Banten, Senin (31/12) kemarin, mengatakan bahwa saat ini penyidik sementara ini sudah memeriksa sembilan orang saksi, dimulai dari direksi rumah sakit hingga staf di Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM)

“Sampai hari ini kita masih melakukan pemeriksaan ada beberapa penambahan terkait dengan pungli, tentunya kasus ini masih kita kembangkan. Kita mencoba untuk menggali dari awal sampai dengan kenapa dengan kejadian ini terjadi,” ungkap Abdul Karim.

Mengenai peran tiga tersangka yang sudah diamankan oleh pihaknya, yakni oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di IKFM RSDP Serang berisial F, dua orang karyawan CV Nauval Zaidan berisial I dan B yang bekerja sama dengan pihak rumah sakit, KSO pelayanan ambulans jenazah berperan aktif dalam upaya pungli. “Mereka ini aktif, baik dari kalangan ASN maupun CV mendatangi calon korban untuk menawarkan jasa. ‘Kalau mau cepat kami bantu’. Mereka tek tok (kerja sama,red),” ujarnya.

Ditanya terkait mengenai keterlibatan KSO CV Nauval Zaidan sendiri, Abdul Karim menyatakan terikat kerja sama resmi dengan pihak RSDP Kabupaten Serang. “Direksi rumah sakit mengetahui kerja sama itu. Memang ditunjuk langsung oleh pihak rumah sakit,” jelasnya.

Namun, Dirkrimsus menyatakan kuitansi yang dikeluarkan kepada keluarga korban tsunami Selat Sunda bukan merupakan pembayaran resmi kepada pihak rumah sakit. “Jadi kuitansi tersebut hanya dibuat oleh oknum, bukan pembayaran yang resmi kepada pihak rumah sakit.”

Kendati demikian, Abdul Karim masih menyelidiki aliran dana pungli tersebut. Ia menegaskan tidak menutup kemungkinan masih ada penambahan tersangka dari kasus tersebut.

Dengan adanya keterlibatan ASN juga, menurut Abdul Karim, sampai saat ini masih belum ketahui, pihaknya masih melakukan pendalaman terkait dengan SOP manajeman pemulangan jenazah di RSDP, Kabupaten Serang.

“Kurang lebih lima orang saksi dari ASN
Bukan hanya dari pegawai forensik saja, tapi semua dan termasuk pimpinan rumah sakit yang kami periksa. Yang kita kembangkan saat ini ada 9 bukti, dan dari korban pun kita tetap lakukan pemeriksaan. Karena dari saksi korban ini kita mencoba kita dalami,” jelasnya

Untuk korban sendiri, masih kata Abdul Karim, sementara ini ada 6 korban, tapi tidak menutup kemungkinan ada korban tambahan. “korban tambahan lagi ini untuk episode berikutnya, tunggu nanti,” katanya

Pihaknya sudah mengamankan Rp 15 juta lebih dari korban sebanyak 6 orang korban pemungutan biaya tersebut. “Jadi rata-rata korban dikenakan Rp 2-3 juta berpariatif, tergantung apa kebutuhan yang dia lakukan, termasuk jarak tempuh ambulance yang digunakan. 6 orang meninggal, yang lainnya masih kita dalami,” tuturnya. (LIN)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: