Sebut Investasi Bodong Ancam Pertumbuhan Ekonomi, OJK: Masyarakat Harus Selektif

OJK Regional 1 Jakarta – Banten / RULIE SATRIA

SERANG, BANPOS – Maraknya kasus nasabah perusahaan jasa keuangan berbasis teknologi atau Finacial Technologi (Fintech) Ilegal, membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap penawaran produk atau kegiatan usaha tersebut.

Hal tersebut dikatakan Kepala OJK Regional 1 Perwakilan Jakarta-Banten, Ahmad Berlian, dalam kegiatan ‘Sharing Informasi Terkini Kepada Tim Satgas Waspada Investasi (SWI) dan Insan Media/Wartawan’, di salahsatu Hotel di Kota Serang, Banten, Selasa (11/12).

Ahmad Berlin dalam sambutannya menjelaskan, bahwa saat ini pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten menunjukan grafik peningkatan, yaitu dengan ditandai timbulnya banyak permintaan kredit di bank, ditambah banyaknya berdiri perusahaan yang menawarkan investasi-investasi yang menggiurkan.

“Kami pun mencatat per bulan Agustus 2018 untuk Jakarta-Banten, ada sebanyak 233 perusahaan investasi ilegal. Dengan meningkatnya pertumbuhan tersebut, maka banyak pula usaha-usaha investasi yang bersifat tidak sehat (bodong). Hal ini tentu dapat mengancam pertumbuhan ekonomi sehingga akan banyak pengaduan-pemgaduan dari masyarakat kepada pihak keamanan. Inilah yang harus kita waspadai,” ujar Ahmad Berlian, Selasa (11/12).

Untuk itu Ahmad Berlin berharap, Tim SWI Banten bisa memaksimalkan tugasnnya, dengan memberantas perusahaan investasi fintech ilegal tersebut. Serta masyarakat pun harus meningkatkan kewaspadaanya dan selektif dalam memilih fintech yang berkembang saat ini.

“Adapun langkah kami (OJK), telah bekerjasama dengan pihak Polda, untuk mengantisipasinya,” ungkapnya.

Sementara itu, Direktorat Kebijakan dan Dukungan Penyidikan , OJK Regional 1 Perwakilan Jakarta-Banten, Irhamsah menambahkan, bahwa semenjak terbentuknnya SWI, telah menutup ataupun memblokir sebanyak 400 Perusahaan Jasa Investasi Fintech Ilegal.

Akan tetapi, masih kata Irwansah, Perusahaan Jasa Investasi Fintech Ilegal kembali bermunculan, dan telah memakan korban sebanyak ribuan orang.

“Makannya kita akan terus berupaya melakukan penyegahan dan penanganan, dengan cara pengawasan ataupun membuka layanan pengaduan. Jadi untuk masyarakat Banten maupun luar Banten bisa langsung mengadukan kepada OJK, apabila tertipu Jasa Investasi Fintech Ilegal melalui call center 157,” jelasnya.

Irhamsah juga menerangkan, berbeda Jasa Investasi Fintech Ilegal dan legal adalah, titik koordinat lokasi yang jelas. Bahkan diaplikasinnya pun terdapat logo OJK. Bungannya pun hanya 1 persen, dan pencairannya tidak bisa memakan waktu satu hari.

“Saya kira, kalau ada Jasa Investasi Fintech yang bisa mencairkan pinjam dalam sehari ataupun 30 menit itu adalah bohong. Karena tidak semudah itu, dalam melakukan Jasan Investasi secara online,” tegasnnya.

Seperti diketahui, menurut data OJK Regional 1 Perwakilan Jakarta-Banten, tercata 78 Perusahaan Investasi Fintech yang resmi terdaftar di OJK. Bahkan telah melakukan transaksi sebesar 1,8 Triliun di 2018. (RUL)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: