Ki Abdullah Anggadirepa dan Kapal Bosok, Cerita Sejarah di Perairan Banten

Tampak foto Kapal Bosok yang diambil dari atas ketinggian / ISTIMEWAH

Ditulis oleh: Shena Annisa Mulia dan Essa Adiperkasa. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dari berbagai sumber.

Meski keberadaan masjid berbentuk kapal bernama ‘Kapal Bosok’ telah lama berdiri di Kampung Drangong, Kelurahan Curug Manis, Kecamatan Curug, Kota Serang, namun masih banyak yang belum mengetahui akan cerita unik dari sejarah asal usul nama tersebut.

Ya, istilah nama Kapal Bosok memang tidak bisa lepas dari sosok seorang tokoh asal Banten, bernama Ki Abdullah Anggadirepa. Menurut keterangan yang didapat dari tokoh masyarakat setempat yang dikutip dari Merahputih.com dan detiktrave.com, bahwa pada masa hidupnya, Ki Anggadirepa cukup dikenal oleh para kalangan kesultanan Banten sebagai seorang ulama yang sakti dalam melawan penjajah VOC.

Saat itu, Ki Anggadirepa diperintah oleh Sultan Banten (tidak diketahui sultan yang mana), untuk merebut kembali harta benda dalam kapal yang tengah berada di perairan Banten tersebut. Ki Abdullah Anggadirepa kemudian menyusul kapal di tengah lautan tersebut dan berhasil menguasainya.

Dalam keterangan tersebut, tidak disebutkan apakah Ki Abdullah menyusul menggunakan sampan, kapal, atau dengan cara-cara lain, tetapi cerita berikutnya menunjukan bahwa kisah sang legenda lebih kepada soal-soal supranatural dibandingkan hal logis. Misalnya tentang bagaimana kemudian kapal tersebut dibawa dari tengah lautan, menuju titik yang lokasinya kini di Kampung Drangong Kelurahan Curug Manis Kecamatan Curug Kota Serang.

Kemudian muncullah dua versi cerita yang berkembang, sehingga Ki Abdullah Anggadirepa dan Kapal Bosok menjadi cerita legenda di masyarakat. Versi pertama menyebut bahwa, sang legenda menarik kapal VOC menggunakan tasbih, sedangkan versi kedua menyebut beliau menaiki kapal, lalu mendayung menggunakan isyarat sampai ke bibir pantai utara Banten.

Sampai bibir pantai dengan isyarat pula ia menaikan air laut ke daratan agar perahu dapat terapung, ia terus mendayung sampai akhirnya kapal sampai di lokasi yang kini menjadi kompleks makam keramatnya.

Sampai di lokasi tersebut harta benda diamankan untuk diserahkan kepada Sultan Banten, sedangkan kapalnya dipukul menggunakan tongkat yang beliau pegang, akibat pukulan itu menyebabkan kapal laut VOC yang indah itu berkarat dan buruk rupa, karenanya mayarakat setempat menyebutnya Kapal Bosok (Kapal Buruk).

Cerita panjangnya adalah (dari keterangan Ahmad Almawardi, humas pengurus masjid), bahwa pada sekitar abad ke 16 ada penjajah Belanda yang bersandar di pelabuhan Karangantu, Serang. Mereka ingin menjajah dan mengambil dokumen dan harta kekayaan Banten.

Karena tidak terima dengan perlakukan Belanda, seorang lelaki bernama Ki Angga Derpa ingin menyelamatkan dokumen dan harta kekayaan tersebut.

Ki Angga nyabut beringin. Di dalamnya ada tempurung isinya 2 macan. Laki dan betina yang ada anak kecilnya. Dibawa beringin ke kerumunan Belanda yang menjajah. Begitu ditaro, macan keluar. Belanda lalu kucar-kacir.

Karena marah, Belanda kemudian mencari Ki Angga Derpa. Di carilah dan kemudian ditemukan di kampung Aon yang sekarang bernama Lingkungan Drangong. Ditangkap lalu dihukum di dalam kapal. Setelah dihukum, Belanda meninggalkan Ki Angga Derpa di dalam kapal beserta dokumen dan sebagainya.

Singkat cerita, kapal tersebut kemudian terbawa air sampai daerah Curug yang lokasinya cukup jauh dari pesisir. Ki Angga Derpa kemudian mengambil cambuk dan memukulkan ke kapal.

Kapal dicambuk, lalu Ki Angga berkata ’’Kapal, sira dicambuk bosok salawase’’ yang artinya, kapal, kamu dicambuk busuk selamanya.

Belanda menurutnya sempat mencari kapal yang hilang terbawa air laut bersama Ki Angga Derpa. Namun mereka menurut Ahmad, tidak menemukan kapal tersebut.

Inti dari cerita itu adalah Ki Angga Derpa marah terhadap Belanda dan berniat mengusir Belanda, namun Belanda sangat kuat dan Ki Angga Derpa berniat untuk menjauhkan dokumen-dokumen dan harta Banten dari Belanda akhirnya Ki Angga Derpa memasukan semua dokumen dan harta tersebut kedalam kapal dan kapal itu di kutuk oleh Ki Angga agar menjauh dari daratan dan membusuk di tengah laut.

Lalu beralih ke masa kini para santri menemukan batu di karang laut yang di yakini sebagai prasasti bukti dari cerita tersebut. Dan ditemukan juga besi dan benda yang ia sebut platok kapal bekas peninggalan cerita tersebut.

Untuk mengenang sejara tersebut, kini Muhammad Nur membangun monumen “Kapal Bosok” dengan tenaga para santrinya sendiri, tanpa keahlian desain arsitektur apalagi teknik sipil, mereka lakukan apa yang mereka mampu lakukan, dan mengerjakan apa yang bisa mereka kerjakan.

Di sekitaran masjid sendiri, ada sebuah makam Syekh Abdullah Angga Derpa Kapal Bosok. Di makam tersebut ada sebuah tulisan berupa silsilah mengenainya mulai dari Nabi Adam, Nabi Muhammad sampai angka 83 Syekh Abdullah Angga Derpa.

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: