Pemda Siapkan Bantuan Benih untuk 25 Ribu Hektar Sawah

Ilustrasi padi terkena puso. NET

SERANG, BANPOS – Menyambut masa tanam yang kemungkinan akan jatuh pada bulan November sampai Desember ini, Pemkab Serang telah menyiapkan bantuan benih sebanyak 25 ribu hektar tanam. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura pada Dinas Pertanian Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana kepada Banpos, Minggu (4/11).

Dikatakan Zaldi, pihaknya sudah menyiapkan bantuan benih lebih dari jumlah puso pada musim tanam lalu. Dimana musim tanam lalu sempat terjadi puso hingga 400 hektar. “Ada sekitar 25 ribu hektar. Bantuan dari pemerintah untuk masa tanam sekarang,” ujarnya.

Zaldi mengatakan, untuk saat ini, walau sudah masuk musim penghujan namun masa tanam masih belum serempak. Beberapa alasan yang menyebabkan belum serempaknya masa tanam itu diantaranya.

Pertama, bendung Pamarayan masih dalam kondisi buka tutup 10 hari sekali. Sehingga air yang dibutuhkan untuk tanam masih belum cukup.

“Kemudian curah hujan masih dibawah 270 milimeter per bulan, jadi baru bisa olah tanah di beberapa lokasi belum banyak,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, kemungkinan masa tanam serempak baru akan dimulai adapun November akhir hingga Desember. “Sekarang baru 3.000 hektar,” ucapnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya para petani pun sempat meminta agar bendung Pamarayan kembali dibuka full sepanjang November-Desember. Akan tetapi sesuai kesepakatan yang dibuat akhir Ramadhan lalu, bahwa September dibuka full, Oktober di tutup full dan November sampai Desember dibuka 10 hari sekali.

“Jadi memang susah dan serba salah, tapi kita berharap mudah mudahan perbaikan irigasi ini jangka panjangnya untuk kepentingan petani juga. Paling kita berharap curah hujan kedepan cukup tinggi jadi petani tidak terlalu mengandalkan dari saluran irigasi,” tuturnya.

Zaldi menuturkan, selama tiga bulan terakhir pertanian Kabupaten Serang memang sempat dilanda puso hingga 400 hektar. “Itu tersebar di Jawilan, Kopo, Tunjung Teja, pontang, Kramat watu, padarincang. Itu musim kemarau panjang,” ucapnya.

Sebenarnya, kata dia, puso tersebut sebelumnya sudah sempat diprediksi. Bahkan dengan BMKG sudah sempat melakukan pemetaan analisis per desa kemungkinan datangnya musim kemarau.

“Ini namanya perkiraan manusia, kemudian kejadiannya sama dengan yang diperkirakan. Makanya pas Juli Agustus kita sudah mengimbau kepada kelompok tani untuk menunda tanam padi atau mengalihkan komoditinya ke komoditi yang lebih sedikit membutuhkan air seperti palawija dan sayuran. Kaya jagung dan kedelai, tapi ternyata sebagian besar petani masih tetap memilih tanam padi dengan risiko puso,” ujarnya. (LIN)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: