Forum CSR Lebak Dianggap Tidak Jelas Keberadaannya

RANGKASBITUNG, BANPOS – Sejumlah masyarakat Lebak mempertanyakan penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) yang dikumpulkan dari dana sosial perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah itu. Bahkan Forum CSR Lebak yang dibentuk pada 2017 lalu dianggap tidak jelas keberadaannya.

Aktivis lingkungan Lebak, Hamdan mengatakan, penerimaan dan penyaluran CSR oleh pemerintah saat ini tidak jelas. Salah satu penyebabnya adalah peran Forum CSR yang dibentuk untuk mengelola dana itu, justru sama sekali tak terlihat.

“Mana peran dari forum CSR yang dibentuk berdasarkan perda nomor 4 tahun 2016, karena forum CSR tidak berfungsi sebagaimana mestinya,” kata Hamdan, kepada BANPOS, Kamis (1/11/2018).

Lanjutnya, pihaknya meminta agar forum CSR berperan aktif dalam pengelolaan CSR. Sehingga penyaluran CSR dari perusahaan dapat dimaksimalkan untuk kepentingan masyarakat.

“Jika tidak tidak berperan, bubarkan saja, biarkan masyarajat sekitar perusahaan yang menikmati dan mengelolanya,” ujarnya.

Kepala Bagian Kerjasama Pemerintah daerah Djakaria mengatakan, memang saat ini Forum CSR masih dalam tahap berbenah pasca pergantian ketua menyusul meninggalnya ketua forum sebelumnya, Muslich Ilyah.

“Sudah ada , perda ditetapkan tahun 2016. Tahun 2017-nya forum ini resmi dibuat dengan dilantik oleh Bupati Iti Octavia Jayabaya,” terangnya.

Menurutnya, ada beberapa pihak yang menjadi pengurus Forum CSR periode 2017-2020 mulai dari unsur masyarakat, pemerintah, usaha dan akademisi.

“Jadi memang setelah dilantik itu ketua forum CSR Muslich Ilyas karena meninggal dunia diganti oleh Akhmad Ganif, didalamnya ada unsur pengawas dan pengurus forum TSLP atau CSR ini,” ujarnya.(FAD)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: