Sopir Angkutan Serang-Balaraja Protes Angkutan Bodong

SERANG, BANPOS – Seratusan sopir angkutan kota (angkot) Trayek E08 Serang-Balaraja berunjuk rasa di depan Kantor Gubernur Banten, KP3B, Curug, Kota Serang, Kamis (25/10). Mereka menuntut agar pemerintah daerah melakukan penertiban angkot bodong yang marak di jurusan tersebut.

Pantauan, aksi dilakukan sekitar pukul 10.30 WIB. Puluhan sopir angkota mendatangi KP3B dengan menggunakan angkotnya masing-masing.

Diketahui, kedatangan mereka ke KP3B adalah aksi susulan serupa yang dilakukannya pada 23 Juli lalu. Adapun tuntutan yang disampaikan masih sama, seputar keberadaan angkot bodong atau ilegal.

Anggota Organisasi Angkutan Umum (Ortakum) Aditya Suranto mengungkapkan, kedatangan mereka adalah puncak kekesalan terhadap keberadaan angkota ilegal yang beroperasi di trayeknya. Bahkan, mereka sudah beroperasi dalam kurun waktu yang cukup lama.

“Kami minta ditertibkan yang namanya angkot ilegal yang masuk trayek E08 Serang-Balaraja, karena terlalu banyak dan terlalu lama juga. Mereka mengambil hak kita dari jalur kita Serang-Balaraja,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam menjalankan aksinya, angkot ilegal bertindak sebagai mana angkot Serang-Balaraja lainnya. Padahal, kendaraan roda empat yang dipakai adalah angkot luar trayek Serang-Balaraja. Mereka hanya mengubah warna mobilnya agar mirip dengan angkota Serang-Balaraja.

Yang membuat para sopir tambah kesal, kata dia, angkot ilegal itu juga beroperasi juga di jam-jam sibuk. Aditya mencontohkan, biasanya angkota bodong beroperasi saat jam masuk dan keluar kerja karyawan pabrik di wilayah Serang Timur.

“Mobil DKI, mobil (angkot, red) Kampung Melayu, mobil Cimone, Mobil Kresek masuk Serang-Balaraja. Dicat, awalnya cat telur asin, kuning jadi merah putih (warna khas trayek Serang-Balaraja). Otomatis enggak ada izin trayek,” paparnya.

Diakuinya, jajaran Dinas Perhubungan (Dishub) Banten sudah berulang kali menggelar aksi penertiban. Akan tetapi upaya itu yang memberikan hasil, angkot ilegal tetap saja beroperasi. Bahkan, jumlah mereka kini sudah mencapai ratusan.

“Yang ada izin trayek hanya 245 unit. Yang ilegal lebih dari 500, ada bukti, ada masukan juga dari terminal bahwa sudah masuk sekitar 800 unit (angkot trayek dan non trayek), hasil pengecekan di lapangan,” tuturnya.

Aditya mengaku, menjamurnya angkot ilegal sangat merugikan pemilik dan sopir angkot yang memiliki izin trayek. Oleh karenannya, dia mendesak agar pemerintah daerah bisa menertiban angkota ilegal bagaimana pun caranya.

“Saya pribadi yang sebagai anggota Ortakum sekaligus sopir merasa sangat dirugikan. Sangat berpengaruh ke penghasilan, hampir 70 persen penurunan kami. Dari awalnya bisa ngasih anak istri Rp 100.000 sekarang Rp 20.000 saja susah. Kadang sekarang kita di jalan sesama sopir rebutan penumpang, itu efeknya,” paparnya.(RUS)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: