Frekuensi Radio Nelayan Karangantu Bisa Mengancam Penerbangan

SERANG, BANPOS – Nelayan Karangantu, Kasemen Kota Serang masih banyak yang menggunakan frekuensi amatir yang akhirnya menerobos frekuensi penerbangan. Hal ini akan mengganggu pelayanan dan juga mengancam keselamatan para penumpang pesawat terbang yang melewati daerah tersebut.

“Sosialisasi ini dengan maksud dan tujuan agar penggunaan frekuensi untuk para nelayan bisa memanfaatkan alat komunikasi dengan benar menggunakan frekuensi atau perangkat maritim,” kata Kepala Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kelas 1 Tangerang Sunarto saat sosialisasi Frekuensi Maritim kepada nelayan Karangantu Kota Serang, Rabu (24/10).

Bagi para nelayan, untuk masalah perizinan penggunaan frekuensi akan dibantu oleh para stakeholder baik itu dari Air Nav, Perhubungan Laut dan Kementrian Kelautan itu sendiri.

“Nanti kita bisa bantu, kemudian stakeholder yang ada di pelabuhan untuk membimbing bagaimana teman-teman nelayan nantinya bisa memproses izin sendiri,” tuturnya.

Semua izin, akan dibantu untuk memudahkan para nelayan menggunakan frekuensi maritim dimulai dari izin online dan perizinan lainnya.

“Ini untuk para nelayan pengguna kapal kecil kalau Kapal besar harus ada rekomendasi dari Perhubungan Laut atau maritim baru bisa ngurus perizinannya,” tuturnya.

Diharapkan para nelayan ini, bisa memanfaatkan alat komunikasi dengan benar, dengan perangkat yang benar yang bersertifikat serta menggunakan alat dan frekuensi maritim.

“Frekuensi maritim ini dengan maksud agar tidak terjadi gangguan, khususnya gangguan penerbangan dan semata-mata untuk keselamatan manusia,” tutupnya.

Deputi GM Operasional AirNav Indonesia, Azmi Jamalullail menyatakan, penggunaan radio yang mengganggu frekuensi dari penerbangan tidak hanya dilakukan oleh nelayan saja, tapi juga oleh masyarakat yang menggunakannya di darat.

“Misalkan antar kampung, atau antar organisasi menggunakan radio. Itu tidak salah, namun ketika tidak standar, maka akan mengganggu,” terangnya.

Menurutnya, gangguan tidak selamanya terjadi, namun ketika peralatan radio tersebut menggunakan alat yang tidak standar, maka akan mempengaruhi dan masuk kepada frekuensi penerbangan pesawat.

“Itu pernah terjadi, dan akhirnya Indonesia mendapat komplain dari internasional,” ungkapnya.

Namun ia mengklaim, dengan sosialisasi terus menerus saat ini. Penggunaan radio yang menyalahi aturan sudah berkurang banyak, sehingga pelayanan publik dan keselamatan penumpang penerbangan dapat terjaga. (PBN)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: