Masyarakat Kedungbaya Tolak Hotel Trans

Trans Hotel yang berdiri di Lingkungan Kedungbaya, Kelurahan Kalitimbang, Kecamatan Cibeber, Kota Cilegon. FOTO: LUKMAN HAFIDIN

CILEGON, BANPOS – Puluhan masyarakat Lingkungan Kedungbaya, Kelurahan Kalitimbang, Kecamatan Cibeber mendatangi kantor Kecamatan Cibeber. Mereka mengeluhkan beroperasinya Trans Hotel. Warga khawatir hotel tersebut tempat praktik asusila maupun transaksi narkoba karena berada tepat di tengah-tengah pemukiman.

Ketua RW setempat, Irman Messah mengatakan warga Lingkungan Kedungbaya, Kelurahan Kalitimbang menolak keberadaan hotel yang letaknya berada di tengah-tengah pemukiman.

Lebih lanjut, Irman menyatakan warga juga menanyakan terkait persoalan perizinan hotel tersebut. Sebelumnya masih kata Irman, sudah dilakukan mediasi pertama.

“Mediasi pertama sudah dilakukan, dan sekarang sudah 10 hari lebih tidak ada tindak lanjut dari pihak hotel. Maka dari itu kami kesini, ingin mengetahui yang sebenarnya dan prosesnya sejauh mana dengan adanya Trans Hotel,” tegasnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat setempat Abdul Salam mengatakan akan tetap menolak pendirian hotel tersebut walaupun sekarang sudah beroperasi.

“Kami masyarakat tidak menginginkan adanya hotel tersebut, maka dari itu kami datang ke kantor Kecamatan Cibeber untuk kroscek perizinannya,” imbuhnya.

Bahwasanya hotel tersebut berada di tengah lingkungan masih kata Irman diduga tidak memenuhi kriteria. Bahwa hotel tersebut berada di lingkungan masyrakat dan jaraknya dekat dengan musolah sekitar 50 meter.

“Hotel tersebut berdiri ditengah masyarakat tanpa sepengatahuan RT dan RW setempat. Selain itu juga dekat dengan sarana ibadah dan pendidikan sehingga bikin resah masyarakat. Dan pengelola hotel mengaku sudah mengantongi izin,” paparnya.

Menanggapai hal tersebut Camat Cibeber Noviyogi Hermawan menyatakan akan tetap menyampaikan aspirasi masyarakat kepada pihak hotel dan Pemkot Cilegon.

“Saya meminta kepada masyarakat terkait perizinan dan tata wilayah itu masuk. Disitu boleh membangun hotel, yang tidak boleh tempat hiburan. Dan secara tata ruang boleh mendirikan hotel. Kita sikapi dampak positifnya, kan untuk mengurangi pengangguran juga terus harga tanah disana menjadi mahal,” paparnya.

Terkait narkoba dan prostistusi, kata Noviyogi, pemerintah dan masyarakat bisa ikut mengawasinya.

“Saya umpamakan, kalau ada tikus dalam lumbung, yang ambil tikusnya bukan dibakar lumbungnya,” tandasnya.

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: