Lili Romli: Medsos Alat Pemecah Belah

Gambar Ilustrasi / ISTIMEWAH

SERANG, BANPOS – Media sosial (medsos) dinilai sebagai media memproduksi ujaran kebencian dan tempat dalam upaya memecah belah rakyat.

Demikian dikatakan Profesor riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lili Romli saat menjadi narasumber seminar yang digelar Ikatakan Cendikiawan Muslim Indonesia Organisasi Wilayah (Orwil) Banten di Markaz ATN, Kota Serang, Selasa (4/9).

“Dari survei Litbang Kompas tentang tentang pembelahan masyarakat, disana masyarakt mengakui bahwa terjadi pembelahan di masyarakat itu. Prosentasenya mencapai 52 persen. Terus pembelahan masyarakat ada di mana ? Di medsos, 70 persen lebih (responden yang menjawab itu). Siapa yang menciptakan itu? Mayoritas mengatakan rekayasa politik,” katanya.

Ia menjelaskan, berdasarkan survei dan penelitian ujaran kebencian yang adalah pekerjaan oknum oportunis. Para agen ujaran kebencian adalah kelompok elit yangf membajak demokrasi. Menciptakan propaganda untuk kepentingan starategis mereka.

“Memanfaatkan situasi atas nama kebebasan untuk kepentingan startegis mereka. Propaganda kebencian untuk delusi dengan hate speech (ujaran kebencian-red). Yang bukan fakta menjadi fakta. Itu sekarang yang ada di medsos,”ungkapnya.

Pemilu seperti pemilihan presiden (pilpres), kata dia, adalah pemilihan pimpinan yang biasa. Namun itu menjadi suatu hal yang tak biasanya ketika ada yang mencampuradukan kepentingan politik dan premordial atau suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Menurutnya, itu adalah dua wilayah yang berbeda. Kepentingan politik yang pragmatis, menghitung untung rugi. Tidak ada lawan dan kawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan pemimpin, selama ada kesamaan kepentingan itu cocok.

“Kepentingan SARA terkait prinsip tentang harga diri bahkan melebihi itu. Dalam kepentingan premordial, rasionalitas enggak ada tapi yang ada adalah emosional. Yang tidak bisa dijelaskan kenapa dia loyal. Itu sesuatu yang given (diberikan-red), yang prinsipil dicampur adukan kepentingan politik yang sesaat,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakan Lili, ada tiga dampak yang ditimbulkan jika hal itu terus terjadi. Pertama, perubahan dalam Kesetiaan atau solidatitas yang tadinya kesetiaan politik menjadi premordial, menjadi fanatik yang tak bisa ditawar lagi.

“Kedua, penggabungan kesetiam menyebabkan pencampuradukan isu politik dan premordial. Yang muncul isu premordial. Misalnya, ini pro Islam dan kontra Islam. Ketiga, mengambil manipulasi dukungan kelompok premordial untuk kepentingan politik. Elit juga tahu memanfaatkan isu itu gratis,” paparnya.

Dia pun mengimbau, agar masyarakat tidak terjebak dengan pencampuadukan kepentingan politik dan premordial. Sebab, dari survei Litbang Kompas menyebut sebagian besar respon mengatakan masyarakt itu sendiri yang bisa mengatasi persoalan tersebut.

“Prosentasenya mencapai 47 persen di bawa parpol dan pemerintah. Bagi saya sah-sah saja sepeti itu (pencampuradukan kepentingan politik dan premordial) asal jangan sampai bersifat saling membenci, terjadi perpecahan, tumbuh radikalisme yang merusak pertemanan. NKRI siapa pun presidennya ya itu presiden kita,” ujarnya.

Akademisi dari UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten Rohman mengatakan, dalam Pemilu 2019 posisi kaum intelektual menjadi strategis. Kaum cendikiawan dapat melakukan beberapa hal untuk meredakan ketegangan.

“Kaum cendikia harus mampu netral namun aktif. Cendikia harus nampak netral namun ia tentu saja memiliki pilihan politik yang akan disalurkan pada saat pemilu. Akif merupakan sikap yang harus diambil ketika masa pesta demokrasi menjelang di mana kaum cendikia dapat mengajak masyarakat untuk menghindari golput,” tandasnya. (RUS)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: