Kematian Ibu dan Anak di Kota Serang Terus Terjadi

Ilustrasi

SERANG, BANPOS – Dalam verifikasi lapangan yang dilakukan oleh tim dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KP3A) terdapat temuan tentang masih rentannya perlindungan terhadap perempuan dan anak di Kota Serang, hal tersebut tercerminkan dari adanya angka kematian ibu serta bayi dan juga, belum adanya biaya visum bagi korban kekerasan.

“Untuk sampel yang kami ambil di Puskesmas Singandaru, tercatat ada kematian bayi sebanyak 4 orang, kematian ibu satu orang dan kasus gizi buruk satu orang,” ujar Ketua Tim Evaluasi KLA KPPA, Taufieq Uwaidha, Kamis (7/6).

Selain itu didapatkan pula data, proses melahirkan warga di fasilitas kesehatan yang hanya mencapai angka 60 persen saja.

“Ini juga masih kami lihat kembali, karena bisa saja melahirkannya di rumah sakit terdekat, bukan di puskesmas,” terangnya.

Sementara itu, terkait kekerasan terhadap anak dan perempuan, didapatkan hasil secara perbandingan adalah 70:30 dimana kekerasan anak lebih tinggi dibandingkan dengan kekerasan terhadap perempuan.

“Dan yang cukup membuat miris adalah, biaya untuk visum yang ternyata belum dibantu oleh pemerintah,” ujarnya.

Dalam proses verifikasi tersebut, diungkapkan informasi bahwa tiadanya anggaran untuk visum gratis bagi korban kekerasan dikarenakan Kota Serang masih belum memiliki RSUD sendiri, adapun yang ada di alun-alun merupakan RSUD Kabupaten Serang walaupun bertempat di wilayah Kota Serang.

“Untuk biaya visum, kami dari pemprov akan mencoba mencari solusi dengan membantu biaya visum tersebut,” kata Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak DP3AKB Banten, Erminawati yang turut serta menghadiri proses verifikasi itu. (PBN)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: