Dirkrimsus Polda Banten Amankan Kikil Menggunakan Hidrogen Proxida

Dirkrimsus Polda Banten, Kombes Pol Abdul Karim saa t konferensi pers, di Mapolda Banten, Kamis (7/6/2018)

SERANG, BANPOS – Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Banten berhasil mengamankan kikil berhidrogen proxida yang berada di Panimbang Jaya, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Pada tanggal 20 Maret 2018, pukul 15.00 WIB.

Dirkrimsus Polda Banten, Kombes Pol Abdul Karim mengatakan, hasil olahan kikil tersebut diedarkan oleh pelaku ke beberapa pasar di Pandeglang, seperti Pasar Labuhan dan Pasar Panimbang. 

“Tindak pidana ini diduga dilakukan oleh W yang telah memproduksi kikil menggunakan bahan yang dilarang sebagai bahan tambahan pangan olahan kikil, kemudian diedarkan di pasar di Pandeglang dan Labuhan dengan harga Rp20 perkilogram,” kata Abdul Karim saat Press Release di Mapolda Banten, Kamis (7/6).

Motif yang dilakukan oleh tersangka mencampurkan bahan tersebut ke kikil, menurut keterangan tersangka agar kikil olahan bersih dan awet. Namun, berdasarkan peraturan pemerintah nomor 74 tentang pengolahan bahan berbahaya, beracun, bahwa Hidrogen Proxida H2 dan O2 termasuk bahan berbahaya dan beracun.

“Berdasarkan para ahli, hidrogen proksida H2 dan O2 adalah oksidaror kuat yang bersifat korosif. Jika tertelan dan masuk kedalam tubuh atau masuk dalam sistem pencernaan dapat menyebabkan muntah dan luka lambung, karena sifatnya korosif dari proxida. Proxida dapat menyebabkan iritasi terhadap jaringan atau organ tubuh lainnya,” katanya

Ia menuturkan, dari operasi tersebut, pihaknya berhasil mengamankan tiga drum besar olahan kikil yang setiap drum berisi kurang lebih 20 kilogram kikil yang telah dicampur dengan proxida. “Barang bukti kita amankan semacam home industri satu rumah, kita musnahkan secara langsung,” ucapnya

Sedangkan untuk penanganan perkara, kata dia, sudah masuk tahap penyidikan dan akan ditindak lanjuti sampai dengan selesai. “Ini sudah melalui proses penyidikan,” ujarnya

Tersangka akan dijerat dengan pasal yang diterapkan adalah tindak pidana pangan sebagaimana pasal 136 pasal 74 Undang-undang 18 tahun 2012 tentang pangan.

“Ancaman hukukannya setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan dan dengan sengaja menggunakan bahan yang digunakan sebagai bahan tambahan pangan, dipidana dengan pidana paling lama 5 tahun penjara atau denda 10 miliar rupiah ini ancamannya cukup tinggi,” jelasnya. (CR-01)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: