Mualaf di Kota Serang Bentuk Organisasi

Ilustrasi

SERANG , BANPOS – Ketua Himpunan Bina Mualaf Indonesia (HBMI) Kota Serang, Muhammad Rizki mengungkapkan suka dukanya menjadi seorang mualaf. Mulai disisihkan oleh keluarga sampai merasa terasing, sibuk mengganti nama dan status keagamaan di KTP (Kartu Tanda Penduduk) hingga sulitnya mencari pekerjaan.

“Sulitnya teman mualaf mencari pekerjaan karena yang kesatu ada keluarga yang tidak suka. Jadi ibaratnya dimusuhi oleh kelurganya, dibiarkan supaya tidak mendapatkan pekerjaan. Harus mencari pekerjaan sendiri, jadi kan susah,” ujarnya.

Muhammad Rizki yang dulu di KTP-nya bernama Johan dan beragama Budha ini mengakui, tidak semua hal seperti itu menimpa nasib teman-teman mualaf. Sebagian lainnya ada yang masih diterima dengan baik oleh keluarganya.

“Teman-teman mualaf yang ada di Kota Serang ini mencapai 50 orang,” ucap warga Kebon Sayur, Kota Serang ini.

Rizki berharap, Pemkot Serang dapat memperhatikan para mualaf. Melakukan pembinaan dengan memberikan pelatihan keterampilan.

“Agar mualaf di daerah Serang ini dibenah kembali. Berharap pemerintah juga peduli, karena masih banyak mualaf yang belum dapat pekerjaan atau masih menganggur,” katanya.

Sementara itu, Ketua HBMI Provinsi Banten, Rudi Kurniawan, menututurkan, untuk di Banten sendiri ada sekira 7000 mualaf. 2 persen diantaranya mualaf dari Kabupaten Lebak yang terdata hingga akhir 2017 lalu.

“HBMI ini lahir dari binaan MUI. Dari komisi dakwah dan pendidikan, embrionya dari sana. Kemudian kami juga sudah memiliki advokasi sendiri, dan dokumen-dokumen yang lainnya,” ujarnya.

Rudi mengatakan, HBMI Provinsi Banten terbentuk pada 2014 lalu. Kata dia, HBMI merupakan wadah untuk memberikan bimbingan dan binaan terhadap para mualaf baik ilmu keagamaan dan kemandirian.

“Kami tidak terlepas dari kerjasama dengan lembaga-lembaga yang berkompeten, kemitraan dengan kementrian agama, MUI,  Laz Harfa,  Baznas dan lembaga-lembaga yang lainnya,” tuturnya.

Untuk menindaklanjuti pembinaan mualaf, sambungnya, tidak hanya sampai pada mengislam kan saja. Harus ada kelanjutan.

“Fokus kami membangun sumber daya manusia yang dilandasi dengan kekuatan dan kemapanan ekonomi. Insya Allah dengan niat yang baik dan atas seizin Allah semuanya akan di mudahkan,” ujarnya. (PBN)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: