Gandeng BNI, BNP2TKI Gelar Pasar Murah

Kepala BP3TKI Serang Ade Kusnadi, Direktur Mediasi dan Advokasi Deputi Bidang Perlindungan BNP2TKI R Wisantoro dan Direktur Manajemen Risiko Bank BNI (Persero) Bob Tyasika Ananta, saat foto bersama di kantor BP3TKI Serang, (30/5/2018). Herlin Saputra//Banten Pos.

SERANG, BANPOS – Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) bekerjasama dengan Bank BNI (Persero) mengadakan pasar murah dengan tema ‘Berbagi Bersama PMI’ di kantor BP3TKI Serang, Rabu (30/5).

Kepala BP3TKI Serang, Ade Kusnadi mengatakan, pelaksanaan kegiatan ini adalah melakukan penjualan sembako murah dengan harga Rp21 ribu yang harga normal senilai Rp70 ribu kepada masyarakat kurang mampu.

“100 paket untuk PMI, 250 paket nasabah BNI. Sedangkan waktu penjualan pada tanggal 24 Mei saja capai 119 paket dan 24 paket dibagikan kepada orang yang tidak mampu di Kecamatan Cipocokjaya, Kota Serang,” kata Ade dalam sambutannya.

Menurut Ade, dari dana hasil penjualan sembako ini, pihaknya akan digunakan untuk keperluan sosial. “Seperti bakti sosial (baksos), memberi bantuan masjid atau lembaga ibadah yang sedang membutuhkan dana dalam pembangunannya,” ujarnya.

Ditempat yang sama, Direktur Manajemen Risiko Bank BNI , Bob Tyasika Ananta menambahkan, ini adalah bukti nyata komitmen dan apresiasi yang sudah berangkat keluar negeri, sehingga menjadikan negara ini berdaulat ekonomi.

“Ini adalah komitmen kami Bank BNI menjadikan Negara ini berdaulat ekonomi,” katanya.

Sisi lain, Direktur Mediasi dan Advokasi Deputi Bidang Perlindungan BNP2TKI, R Wisantoro mengatakan, untuk saat ini TKI yang berada diluar saat ini sekitar 6 juta TKI. Dari 6 juta TKI tersebut, katanya dari total keseluruhan TKI baik legal maupun ilegal.

“Jadi 6 juta itu diperkirakan keseluruhan, baik yang terdata maupun tidak, tetapi untuk perkiraan yang tidak terdata karena memang jumlahnya hampir 50:50 antara yang resmi sama yang tidak resmi, karena memang susah untuk melacaknya, satu banyak pintu seperti di Malaysia banyak pintu yang susah diawasi, pintu-pintu darat ini yang susah dipantau secara langsung,” katanya.

Sedangkan untuk remitansi yang selama ini hampir 70 triliun untuk TKI seluruh penempatan. “Kalau yang tidak terdaftar susah kita memprediksi karena kita hanya taunya kalau mereka lapor ada masalah baru kita tahu datanya, tetapi kalau data yang sesuai prosedural ada,” ujarnya.

Untuk devisa yang sudah mengikuti jaminan sosial, dia mengatakan, tertanggan 1 Agustus 2017 semua TKI yang berangkat secara prosedural memang sudah di BPJS.

“Yang sudah terklaim totalnya saya tidak tahu, karena setiap hari  selalu berkembang akumulasinya,” tandasnya. (CR-01)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: