Diagnosa Hemofilia, Raditya Tertolong Program JKN- KIS

Raditya Suria Atmaja (tengah) bersama kedua orang tuanya, Sahroni dan Karlina, saat menunjukan kartu peserta JKN-KIS dari BPJS Kesehatan / RULIE SATRIA

SERANG, BANPOS – Rasa haru dirasakan pasangan Sahroni dan Karlina (49) saat anaknya Raditya Suria Atmaja (15) yang menderita penyakit hemofilia dinyatakan terdaftar sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN- KIS.

Menurutnya, program pemerintah melalui BPJS Kesehatan tersebut sangat menolongnya. Pasalnya, Raditya yang di diagnosa hemofilia sejak usia 8 tahun, membutuhkan biaya tidak sedikit untuk sekali berobat.

Diketahui, Hemofilia adalah suatu penyakit yang menyebabkan gangguan perdarahan karena kekurangan faktor pembekuan darah. Akibatnya, perdarahan berlangsung lebih lama saat tubuh mengalami luka.

Dalam keadaan normal, protein yang menjadi faktor pembeku darah membentuk jaring penahan di sekitar platelet (sel darah) sehingga dapat membekukan darah dan pada akhirnya menghentikan perdarahan. Pada penderita hemofilia, kekurangan protein yang menjadi faktor pembeku darah tersebut mengakibatkan perdarahan terjadi secara berkepanjangan.

Ditemui di kediamannya di Taman Ciruas Permai Blok G4 No 26, RT 03/05, Kelurahan Pelawad, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, Karlina mengutarakan bahwa, penyakit hemofilia yang diderita oleh Raditya merupakan hal terpedih dalam hidupnya. Sebab penyakit hemofilia belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan anaknya. Jadi ia harus rela mengorbankan waktunya untuk terus merawat anaknya supaya bertahan hidup.

Lebih lanjut Karlina menambahkan, untuk sekali mengobati anaknya, dirinya harus menyediakan 8 juta rupiah, sementara penghasilan ia hanya 4 juta rupiah. Meskipun begitu ia terus berupaya mencari solusi untuk membawa anaknya ke rumah sakit.

Dirinya bahkan rela meminta dan monad-mandir ke kelurahan untuk mengurus surat-surat kelengkapan keterangan tidak mampu. Namun petugas kelurahan mengarahkan untuk mendaftakan anaknya mengikuti program jaminan kesehatan JKN-KIS.

“Berkat adanya program Jaminan Kesehatan JKN – KIS dari BPJS Kesehatan ini, saya dan suami merasa sangat terbantukan sekali. Sebab, program ini begitu nyata ketika ada orang yang tak punya biaya menjadi terbantu,” ujar Karlina dengan bergelimang air mata saat mengenang perjuangan dirinya mendapatkan bantuan dari pemerintah sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN- KIS, untuk pengobatan anaknya (Raditya), Rabu (30/5/2018).

“Saya sedih banget, ketika anak saya ini sering merasa sakitnya kambuh. Sementara saya juga secara ekonomi tidak mampu untuk mengobatinya ke rumah sakit. Sebab suami saya sudah di PHK dari perusahaanya. Jadi bingung mau berobat ke rumah sakit,” kata Karlina.

lanjut Karlina, saat ini ia dan suaminya bekerja hanya sebagai penjual pakaian keliling di komplek-komplek perumahan. Ia mengatakan sangat tidak mungkin bisa membiayai anaknya ke rumah sakit lagi kalau tidak ada program JKN-KIS.

“Sifat gotong royong begitu terasa, jika program JKN -KIS gak ada, saya gak tahu harus dapat bantuan dari mana lagi. Pendapatan dari suami berjualan keliling pakaian dari komplek ke komplek rasanya tidak akan cukup untuk membiayai rawat jalan Raditya. Kalau dihitung sudah ratusan juta keluar duit dari JKN-KIS. Dan saya gak punya uang sebanyak itu. Jadi alhamdulilah ada JKN-KIS semuanya bisa tertolong, “ucapnya.

Ia berharap ke depanya program BPJS kesehatan terus berlanjut. Karena sejak ada JKN-KIS sudah banyak menolong orang yang tak mampu berobat seperti yang dialami ibu Karlina.

“Kemudian saya juga meminta pada faskes jangan merasa bosan untuk menerima peserta BPJS Kesehatan, ketika peserta JKN-KIS sering berobat ke faskes yang dituju,” pungkas Karlina. (RUL)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: