Mau Ringankan Beban Keluarga, Siswa SD di Ciuyah Malah jadi Juara Menganyam

Imam Jajuli didampingi guru-guru SDN 03 Ciuyah bersama piala yang diraihnya di FLS2N tingkat Provinsi Banten.

Oleh: Dede Suhada, Rangkasbitung

Pagi itu suasana Desa Ciuyah cukup cerah. Seperti anak-anak seusianya, Imam Jajuli bersiap berangkat ke sekolah SDN 3 Ciuyah. Seragam putih merah, topi, tas dan buku-buku di dalamnya. Namun ada yang kurang, Imam terlihat tidak memakai sepatu. Ternyata, sudah lama sepatu semata wayangnya rusak. Terpaksa ia harus nyeker atau terkadang memakai sandal jepit.

Namun hal itu tak mengendorkan semangat anak ketujuh pasangan Jali dan Emur ini. Setiap hari sejauh 1 kilometer, Imam bersama teman-temannya berjalan kaki ke SDN 03 Ciuyah. Desa yang dibelah oleh jalan pusat latihan tempur TNI itu, jadi saksi bisu perjalanan siswa kelas 6 ini setiap hari.

Imam memang siswa dari keluarga kurang mampu. Ayahnya hanya berkebun di tanah milik TNI. Hasil berkebun sekitar Rp350 ribu. Tak cukup untuk makan sebulan. Untuk menutupinya, Jali mencari tambahan menjadi tukang bangunan atau pekerjaan serabutan lain.

“Ya beginiah keseharian kami. Sarapan seadanya sebelum berangkat ke kebun,” ungkap Jali sambil menyeruput secangkir kopi yang sudah disiapkan Emur, istrinya. Kopi yang dimasak dengan teko diatas tungku kayu bakar.

Jali mengungkapkan, hanya bisa memberi jajan antara Rp2 ribu sampai Rp5 ribu setiap hari kepada dua anaknya. Imam dan kakaknya yang sudah duduk di bangku SMP. “Tapi kalau lagi nggak punya ya saya nggak bisa ngasih apa-apa. Akhirnya, mereka berdua tidak berangkat ke sekolah karena nggak punya bekal,” ungkap Jali sambil menghisap rokok pemberian anaknya yang sudah berumahtangga.

Selain itu, ada beberapa perlengkapan sekolah yang belum dipenuhi Jali. Salah satunya sepatu kedua anaknya yang sudah rusak. Jali berjanji jika sudah punya uang akan memperbaiki atau membelikan mereka sepatu baru. “Ya minimal memperbaiki sepatu mereka kan lebih murah,” tukasnya.

Menyadari kondisi keluarga yang pas-pasan, membuat Imam berpikir untuk membantu mengurangi beban keluarga. Ia pun memilih mengikuti kegiatan keterampilan menganyam di sekolah. Dari 266 siswa SD 03 Ciuyah, ternyata Imam memiliki bakat dan keterampilan yang cukup menonjol dibanding siswa lain. Disertai kerja keras dan ketekunan, Imam bisa dengan cepat menguasai dan memahami cara mengacam yang diajarkan gurunya.

Keseriusan Imam belajar menganyam memang tidak diragukan. Bahan-bahan anyaman seperti bambu dan rotan yang memang banyak tersedia di Kecamatan Sajira ia bawa ke rumah. Di sana, ia kembali meneruskan anyamannya. Memilah dan memadukan bahan itu menjadi karya yang bagus.

“Awalnya hanya kegiatan ekstra kulikuler di sekolah. Saya terus mempelajari dan memahami cara membuat anyaman. Akhirnya saya bisa mengerjakan berbagai model anyaman. Misalnya vas bunga, tempat tisu dan lain-lain,” papar Imam.

Karya Imam ini akhirnya dilihat oleh para guru dan kepala sekolah. Tak lama kemudian, salah satu karyanya vas bunga berbentuk becak, yang diberi nama Becak Kelinci diikutkan dalam lomba Festival dan Lomba Seni Siwa Nasional (FLS2N) cabang kriya anyam, tingkat Provinsi Banten. Hasilnya, Imam menjadi juara pertama dalam ajang tersebut.

Imam mengaku bersyukur karena tak menyangka bisa menjuarai lomba seni siwa di tingkat provinsi bersaing dengan siswa dari sekolah lain. Ia pun bertekad akan terus meningkatkan kemampuannya dalam keterampilan menganyam sehingga bisa menghasilkan karya-karya lain yang lebih bagus. Bagi Imam saat ini, dengan prestasinya ia bisa membantu orang tua membiayai kebutuhan sekolah.

Ia juga berharap ada bantuan pihak lain untuk penyediaan bahan anyaman seperti bambu atau rotan. “Kalau banyak bahan saya bisa membuat anyaman lain. Terus belajar supaya ada hasilnya yang bisa membiayai sekolah saya nanti ke SMP,” harap Imam.

Para guru di SD Ciuyah 3 pun mendukung apa yang dilakukan Imam selanjutnya. Mereka juga berharap karya Imam bisa dilombakan di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional tingkat nasional. “Semoga bisa masuk di tingkat nasional dan menjadi juara,” tukas Wulan salah satu guru di SD itu.

Seperti biasa, pagi itu cuaca Kampung Ciuyah terlihat cerah. Anak-anak tampak bersiap berangkat sekolah. Imam pun tampak sumringah. Sepatu dan seragam baru hadiah dari lomba menganyam ia kenakan pagi itu. Selamat belajar Imam..!

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: