Wujudkan Pelayanan Kesehatan Secara Maksimal Melalui Program Rujuk Balik BPJS Kesehatan

Puji Cahyani, peserta BPJS Kesehatan / IST

SERANG, BANPOS – Di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pelayanan kesehatan tidak lagi terpusat di rumah sakit atau fasilitas kesehatan (faskes) tingkat lanjutan saja, melainkan pelayanan kesehatan harus dilakukan secara berjenjang sesuai dengan kebutuhan medisnya. Hal itu untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional –Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

Selain mempermudah akses pelayanan kepada penderita penyakit kronis, program rujuk balik (PRB) tersebut membuat penanganan dan pengelolaan penyakit peserta JKN-KIS menjadi lebih efektif.

Jika pasien sudah dinyatakan stabil oleh dokter rumah sakit, maka pengobatan dilanjutkan di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), misalnya Puskesmas/Klinik. Mekanisme ini diawali surat rekomendasi dokter rumah sakit tentang kondisi pasien.

Selanjutnya, pasien bisa mendaftar ke fktp untuk dimasukkan dalam mekanisme rujuk balik.

Hal tersebut dikatakan petugas medis Rumah Sakit Sari Asih, Dokter Devid, yang ditemui disela waktu jam istirahat kerjanya.

Dokter Devid mengatakan, “Manfaat lain dari PRB adalah pasien peserta PRB yang sudah dinyatakan stabil oleh dokter rumah sakit, tidak perlu lagi repot – repot mengantre kerumah sakit untuk mendapatkan pengobatan. Pasien peserta PRB cukup mendatangi puskesmas, klinik ataupun apotek terdekat yang sudah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan untuk mendapatkan penanganan cepat. Dan, pasien jangan khawatirkan terapinya akan berbeda, karena pihak rumah sakit akan bekali pasien dengan surat kontrolnya,” ujar Dokter yang mengaku asli dari Serang ini, Rabu (25/4).

“Kami berharap program PRB ini butuh sinergitas antara pasien, faskes tingkat pertama dan tingkat lanjutan. Karena program PRB ini akan berjalan baik jika semuanya memahami pentingnya manfaat PRB ini,” Dokter Devid menambahkan.

Dokter Andri Havyatra Lubis / IST

Sementara itu, petugas medis sekaligus pemilik klinik Andri Medistra, Dokter Andri Havyatra Lubis mengaku sangat mendukung dengan adanya program PRB yang digalakan BPJS kesehatan.

Menurutnya banyak manfaat yang didapat dari program tersebut di antaranya dapat meningkatkan fungsi Faskes selaku Gate Keeper dari aspek pelayanan komprehensif dalam pembiayaan yang rasional, kemudian dapat meningkatkan kompetensi penanganan medik berbasis kajian ilmiah terkini (evidence based) melalui bimbingan organisasi atau dokter spesialis, dan meningkatkan fungsi pengawasan pengobatan.

“Jadi program ini penting diikuti oleh para pasien yang kronis. Jadi kami bisa lebih intensif dalam mengontrol pasien yang mengidap penyakit kronis,”ujarnya.

Dokter Andri menambahkan, baiknya program ini namun masih ada kendala yang harus dihadapi dilapangan. Kebanyakan para pasien pengidap penyakit kronis enggan untuk dirujuk ke rumah sakit. Tapi ia selalu mengedukasi agar para pasien mengerti dan paham jika mengikuti program PRB.

Salah satu peserta BPJS Kesehatan, Puji Cahyani (52) yang merasakan manfaatnya menggunakan PRB mengatakan, jika kemudahan serta tranfers ilmu yang didapat dari dokter selama berobat, membuat kesehatannya kini mulai membaik.

Ibu satu anak ini sekaligus pengajar di SMPN 19 Kota Serang tersebut diketahui mengidap penyakit darah tinggi sejak duduk di bangku SMA pada 1986. Sejak itu, ia mengeluhkan selalu pingsan ketika tensi darahnya tinggi.

“Jadi dengan program rujuk balik ini, saya lebih hemat waktu. Lebih nyaman lah, karena selama pengobatan saya lebih terkontrol dan mendapat arahan dan wawasan yang jelas dari faskes-faskes yang terdaftar di BPJS kesehatan, “ujarnya.

Diketahui, Program Rujuk Balik yang digagas BPJS Kesehatan ini diperuntukan untuk pasien yang mengidap penyakit kronis seperti diabetes melitus, hipertensi, jantung, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), epilepsy, stroke, schizophrenia, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang sudah terkontrol/stabil namun masih memerlukan pengobatan atau asuhan keperawatan dalam jangka panjang, bisa dikelola di tingkat fasilitas kesehatan primer. (RUL)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: