Dindik Cilegon Mulai Kaji Mulok Bebasan

Muhtar Gazali

CILEGON, BANPOS – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Cilegon saat ini mulai mengkaji bahasa Jawa Cilegon (Bebasan) sebagai muatan lokal (mulok) pada mata pelajaran di sekolah dasar (SD) di Kota Cilegon. Demikian dikatakan Kepala dinas Pendidikan Muhtar Ghajali usai hadir dalam kegiatan Isra Miraj di Pemkot Cilegon, belum lama ini di kantornya.

Kajian ini merupakan salah satu proses agar Bebasan sebagai salah satu muatan lokal bisa diterima menjadi mata pelajaran di sekolah.

“Semua ada prosesnya,saat ini kami mulai mengkaji, dan bebasan itu merupakan kebijakan pemerintah yang dimuat pada peraturan walikota (Perwal) 57 pasal 13 yang mengatur setiap Hari Kamis dalam kegiatan pendidikan, kemasyarakatan dan  pemerintahan agar wajib memakai bahasa Jawa Cilegon,” katanya.

Menurutnya, dengan adanya bahasa Jawa Cilegon yang sudah ada dalam perwalnya, mau tidak mau Dindik harus menyiapkan kajian,baik berupa struktur bahasa,kerangka acuan guna menyusun muatan lokal (mulok) agar anak-anak kota Cilegon bisa berbahasa Jawa dan tinggal proses penyusunan bahan-bahan ajar.

“Sedang kita kaji dan proses muatan lokal bahasa Jawa Cilegon agar anak-anak bisa bahasa Jawa. Kami sudah mengkaji, menyusun sampai kisi-kisinya. Kamus bahasa Jawa Cilegon sudah ada yang nulis tinggal menyusun bahan-bahan ajarnya saja.Kajiannya memang cukup lumayan lama,bersabar saja nanti juga ada mata pelajaran bebasan,” ujarnya.

Ditemui terpisah Plt Walikota Cilegon Edi Ariadi, mengatakan, bahasa daerah perlu dilestarikan agar tidak tergusur oleh budaya dan bahasa asing negara lain. Untuk itu dirinya meminta agar seluruh OPD menjalankan Perwal yang sudah ada.

“Bahasa daerah adalah bahasa yang harus dimiliki oleh masyarakat, maka dari itu kita perlu melestarikan agar tidak hilang dan tergusur budaya asing,” tuturnya.

Edi menjelaskan, Kota Cilegon memiliki bahasa Jawa, maka dinilai perlu menerbitkan peraturan tentang penggunaan, pengembangan, dan pemeliharaannya. Hal ini,lanjut Edi adalah sebagai bentuk cinta dan bangga memiliki warisan budaya adat istiadat dan tradisi serta kebiasaan dengan bahasa daerah atau yang disebut dengan bebasan.

“Pemkot Cilegon turut mendukung terlestarikannya bahasa Jawa Cilegon sebagai bahasa kedua, mengingat selama ini bahasa daerah merupakan salah satu ciri khas dari daerah tersebut dan dapat digunakan oleh masyarakat dan semuanya.Apalagi setiap Kamisidi lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) perlu dibiasakan bebasan. Dan saya berharap bebasan bisa secepatnya menjadi salah satu pelajaran di sekolah-sekolah,” ungkapnya.(BAR)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: