Disnakertrans Lakukan Investigasi Laka Kerja BF PT. KS

Pengawas Dinakertrans saat menginvestigasi laka kerja di Blast Furnace PT. KS Cilegon, Rabu (28/3/2018) / ISTIMEWAH

CILEGON, BANPOS – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Banten melakukan investigasi secara langsung ke lokasi terkait kejadian kecelakaan kerja yang terjadi di area Blast Furnace PT. Krakatau Steel, Tbk, Cilegon, Rabu (28/3/2018).

Dalam investigasi itu, tujuh orang pengawas diinstruksikan untuk mendalami kasus yang melibatkan tujuh (sebelumnya delapan) korban dalam insiden laka kerja di area Hopper BIN Transfer Station F.1, beberapa hari lalu itu.

Koordinator Pengawas Wilayah 1 Serang Disnakertrans Banten, Rully Riatno mengungkapkan, berdasarkan keterangan sementara yang diperoleh pihaknya dari internal KS, insiden itu terjadi ketika tengah pengujian muatan bijih besi. Saat pengujian, diketahui pada insiden itu membuat Hopper BIN roboh seketika.

“Pada saat uji muatan itu ada kejadian trouble pada stacker reclaimer lalu Hopper BIN berhenti sementara kokasnya tetap masuk dengan level satu kemudian menghasilkan 261 ton, lalu ambruk,” ungkap Rully ketika dikonfirmasi.

Dari informasi yang diperoleh pihaknya, kata Rully, saat itu pekerja tidak tertimpa oleh reruntuhan Hopper BIN justru melompat dari area lokasi dengan ketinggian kurang lebih 1,5 meter.

Hal itu dikatakan olenya tidak seperti pernyantaan yang dilansir PT. KS sebelumnya. Oleh karenanya, Untuk menginvestigasi itu, kata Rully, pihaknya masih mendalami dugaan penyebab laka kerja itu.

“Tujuh orang itu melompat menyelamatkan diri dari ketinggian 1,5 sampai 2 meter bukan tertimpa reruntuhan, sehingga mengalami luka-luka menurut keterangan mereka (PT KS), namun ini belum bisa kami yakini 100 persen,” Terangnya.

Pihaknya meminta agar PT. KS dapat terbuka untuk memberikan informasi. Hal itu diminta agar penyebab kecelakaan dapat terungkap dan diinformasikan secara benar kepada maayarakat. “Kalau mereka tidak terbuka, nanti kita panggil satu-satu (manajemen PT KS), kita BAP,” Tandasnya.

Terkait dengan pekerja yang menjadi korban, kata Rully, tujuh pekerja memiliki tugas yang berbeda saat tengah pengujian. Tiga pekerja berasal dari PT. Krakatau Perbengkelan dan Perawatan, tiga pekerja lain dari PT. KS dan satu pekerja berwarga negera asing dari pihak perusahaan konstruksi mekanikal conyeyor dan Hopper BIN itu. Sampai saat ini, kasus itu masih didalami oleh pihaknya untuk mengungkap penyebab lala kerja.

“Kalau dari informasi yang kita peroleh, status pegawai (korban) itu tiga orang dari KPDP (PT Krakatau Perbengkelan dan Perawatan), tiga orang lainnya dari KS, satu orang lagi dari perusahaan kontruksi mekanikal conveyor dan Hopper BIN yang melakukan simulasi seperti proses produksi yang sebenarnya untuk memastikan semua peralatan itu berfungsi dengan baik. Jadi saat running tidak ada masalah ternyata ada trouble yang menyebabkan ada pekerja terluka,” Tegasnya.

Sementara itu, Senior Vice President Corporate Secretary PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Suriadi Arif tidak mengetahui jika pengawas Disnakertrans Banten menginvestigasi laka kerja itu. Suriadi mengatakan, bahwa dirinya tengah sibuk mengikuti rapat di KS.

“saya belum tahu tuh itu, hari ini saya rapat. Jadi saya tidak tahu ada informasi tentang itu,” Ungkapnya singkat (NAL)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: