Bermodal Kejujuran, Pedagang Ayam di Pasmod BSD Ini Punya Omzet Rp24,5 Juta Per Hari

Wagimin, melayani pembeli di Pasar modern BSD.

KESUKSESAN memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang. Memiliki mimpi besar yang ingin dicapai, menjadi motivasi utama untuk meraih kesuksesan meski dengan cara yang tidak mudah. Terkadang kunci untuk meraih kesuksesan berasal dari hal yang paling sederhana, sesederhana kejujuran hati dan tekad yang kuat. Kedua hal itu yang dipegang erat oleh Wagimin, salah satu pedagang ayam di Pasar Modern BSD City (Pasmod BSD).

Berdagang bukanlah perkara mudah. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan mulai dari modal hingga bagaimana strategi untuk tetap bertahan dalam persaingan. Hal tersebut yang membuat pria kelahiran 1976 ini tertantang untuk memulai kisah perjalanannya meraih kesuksesan menjadi seorang pedagang ayam di Pasmod BSD.

“Saya memutuskan berjualan ayam karena ingin memperbaiki ekonomi bapak dan ibu saya sebagai Petani di Kebumen Jawa Tengah. Kemiskinan membuat saya merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai pegawai berpenghasilan Rp 400.000 per bulan tidak mencukupi, hingga akhirnya saya memutar otak berjualan ayam dan alhamdulilah omzet per harinya kini mencapai Rp 24,5 juta,” kata Wagimin berkisah.

Pria berpembawaan tenang dan ramah ini, mengingat kembali kisah perjuangan hidup yang penuh kekurangan di kampung halaman hingga di Jakarta.

“Kemiskinan membuat saya tidak tamat SD dan saya sejak kecil memang terbiasa untuk bekerja. Di kampung saya bekerja menjaga kambing dan sapi milik orang lain untuk membantu ekonomi orang tua. Kemudian tahun 1992 saya mencoba mengadu nasib ke Jakarta. Di Jakarta, saya pernah bekerja sebagai pelayan di sebuah kedai bakso di daerah Tanjung Duren, kemudian pindah kerja untuk membantu usaha dagang ayam milik orang lain selama 9 tahun,” kenangnya.

Kekurangan secara finansial dan keinginannya untuk membantu kedua orang tuanya dikampung membuat pria yang akrab disapa Gimin ini terus memutar otak. Bermodalkan kejujuran dan tekad yang kuat untuk meraih mimpi membangun keluarga, anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini akhirnya banting setir.

“Saya memutuskan untuk berhenti menjadi pegawai pasar, dan mulai berjualan ayam pertama kali di pasar modern BSD City di tahun 2004, dan diawal hanya bermodalkan sebesar Rp 500.000 untuk menyewa lapak ukuran 2 x 2 Meter,” ujarnya.

Gimin menambahkan Modal saja yang dibutuhkan untuk memulai usaha tidaklah cukup, namun kejujuran adalah hal yang paling utama.

“Ketika saya mulai usaha, modal saya sangat kurang, namun karena saya menerapkan kejujuran adalah nomor satu dalam hidup, sehingga saya Alhamdulilah dipercaya dapat mengambil ayam terlebih dahulu di sebuah peternakan yang ada di daerah Ciputat dan bayarnya nanti setelah ayamnya terjual,” kisahnya.

Merintis sebuah usaha tentu harus melalui jalan yang berliku dan tidak lah mudah. “Saya ketika memulai usaha jualan ayam, setiap jam 8 malam menginap di kandang ayam di sebuah peternakan ayam. Kemudian jam 3 dini hari mulai memilih ayam kualitas bagus dan memotong ayam segar siap jual untuk dibawa ke Pasmod BSD . Itu saya jalani selama beberapa tahun,” kata Wagimin.

Di awal usahanya Gimin hanya dapat menjual sekitar 30 sampai 40 ekor ayam per harinya, tetapi seiring dengan usaha yang keras, kini Gimin mampu menjual hingga 700 ekor dengan kisaran omzet mencapai kurang lebih Rp24,5 juta per hari.

“Saya selalu menepati janji ke pemilik peternakan soal waktu pembayaran ayam, jika itu dilakukan insya Allah usaha kita lancar. Kita harus percaya, berjualan kan harus ada modal, kaya mau belanja kan harus punya uang. Bermodal kepercayaan aja,” ujar ayah dari dua orang anak ini.

Wagimin juga mengungkapkan rasa syukur dengan dibangunnya Pasmod BSD. “Ya manfaat adanya Pasar Modern ini kan BSD juga jadi semakin maju, pengunjung jadi banyak yang dari luar-luar, dulu masih kecil dan sempit, sekarang pasar jadi bersih, jadi banyak yang ingin datang, kalau pengunjung banyak yang datang, kita juga naik keuntungannya,” tutur Gimin.

Dengan kesuksesan yang telah diraihnya saat ini, Gimin dengan mantap mengungkapkan harapannya terhadap masa depan keluarga yang menjadi motivasi awal dirinya mengejar mimpi.

“Saya pengen anak saya sekolah yang tinggi, jangan kaya bapaknya, bapaknya kan ga sekolah, kalau untuk jadi pedagang ya nanti, jadi sekolah yang tinggi dulu aja, kalau wawasan dan ilmu lebih luas kan ngapain aja bisa,” harapnya.

Meski awalnya tidak menyangka bahwa akan meraih kesuksesan seperti sekarang, Gimin yang saat ini memiliki 7 orang karyawan ini tidak menjadikan keterbatasan pendidikan dan ekonomi sebagai hambatan baginya meraih impian. Dengan hanya bermodalkan kepercayaan, kejujuran, dan semangat bekerja, Gimin juga berhasil mengangkat derajat ekonomi keluarganya di kampung. Bahkan 3 orang saudaranya juga mengikuti jejaknya yaitu berjualan ayam segar dan mereka kini juga telah memiliki lapak sendiri di pasar yang ada di wilayah Jabodetabek. Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.(*)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: