Bangkai Tongkang Bikin Nelayan Bayah Dihantui Rasa Takut


Bekas tongkang yang ditaruh sembarangan di dekat tempat sandar perahu, Senin (29/01). (FOTO: WIDODO CHUDORI)

BAYAH, BANPOS – Perkumpulan Nelayan Bayah (PNB) mengeluhkan keberadaan bangkai kapal tongkang yang tersandar di bibir aliran sungai Cimadur, Desa Bayah Barat, Kecamatan Bayah. Bangkai tongkang yang tersandar sejak empat tahun lalu itu dapat membahayakan bila sewaktu-waktu hanyut terbawa derasnya arus air sungai Cimadur.

Ketua PNB, Dadan Bili, menyebut, para nelayan yang menyandarkan perahu di bagian hilir dari bangkai bekas tongkang dihantui ketakutan jika sewaktu-waktu bangkai kapal tongkang yang beratnya puluhan ton itu hanyut terbawa banjir dan terseret arus air sungai. Karena kondisi akhir-akhiur ini, kata Dadan, sungai Cimadur kerap meluap akibat intensitas hujan yang tinggi di wilayah Bayah dan sekitarnya.

“Kami para nelayan takut dan khawatir bangkai kapal itu hanyut terbawa banjir dan derasnya arus air sungai Cimadur, akibatnya bisa merusak perahu-perahu milik para nelayan,” katanya kepada wartawan, Senin (29/01/2018).

Dadan menjelaskan, keberadaan bangkai kapal tongkang itu saat ini dibiarkan begitu saja, tanpa ada tali rantai sebagai ikat pengaman agar bangkai kapal itu tidak hanyut.

“Kemarin kami sudah cek, bangkai kapal itu ternyata tidak ada sling rantai pengikatnya, jadi hanya tersandar ke tanah di bibir sungai yang kondisinya sangat membahayakan. Malah sebagian badan kapal, terutama bagian depan kapal saat ini sudah miring ke aliran air sungai, kalau banjir besar datang dan arus besar kami takut bangkai kapal yang beratnya puluhan ton itu hanyut dan merusak kapal nelayan yang sandar di bagian hilirnya,” ujar Dadan.

Bersama para nelayan lainnya, Dadan berharap, pihak yang berwenang dan pemilik bangkai kapal itu untuk memindahkan ke lokasi yang lebih aman. Sehingga para nelayan tidak selalu dihantui ketakutan hanyutnya bangkai kapal dan nelayan tidak dirugikan.

Sementara, Kepala Desa Bayah Barat, Ridwan kepada BANPOS membenarkan kondisi para nelayan saat ini, mereka khawatir bekas tongkang itu hanyut tidak terkendali dan menghantam perahu yang bersandar. Kata Ridwan, sewaktu-waktu tongkang itu bisa saja hanyut terbawa banjir dan merusak perahu-perahu nelayan.

“Itu bangkai kapal tongkang yang ditaruh sejak Tahun 2013, yang punya warga asing asal Korea. Awalnya itu disita oleh aparat berwajib dan pihak Distamben karena melakukan penyedotan pasir tanpa ijin. Kondisinya saat ini, bangkai kapal itu hampir tergerus akibat sungai Cimadur sering banjir. Para nelayan ketakutan dan ingin agar tongkang yang beratnya sekitar 40 ton itu dipindahkan,“ paparnya.(WDO)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: