Gerabah Bumijaya, Dulu Berjaya Kini Merana

Ahmad Suhaimi bersama gerabah-gerabah miliknya.

PEMBUATAN gerabah merupakan salah satu tradisi nusantara yang hingga kini masih bertahan. Desa Bumijaya pernah merasakan kejayaan bisnis gerabah dan mengharumkan nama Banten lewat gerabah-gerabah yang diproduksinya.

Laporan Lukman Hapidin

Desa Bumijaya terletak di Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari ibukota Provinsi Banten, atau membutuhkan 15 menit perjalanan dari pusat Kota Serang.

Di desa itu, masyarakat didominasi oleh pembuat gerabah. Mereka mendapatkan keahlian secara turun temurun, karena tradisi pembuatan gerabah di desa itu memang berkembang sejak jaman Kesultanan Banten.

Sampai memasuki era 90-an, gerabah Bumijaya berada di puncak kejayaannya. Desa itu dikenal sebagai salah satu desa penghasil gerabah terbesar di dunia. Bukan hanya di Nusantara, produk gerabah dari Desa Bumijaya dipasarkan di banyak Negara Asia, Eropa bahkan Amerika.

Ahmad Suhaimi adalah salah satu perajin yang merasakan masa keemasan gerabah Bumijaya. Dirinya menjadi saksi bagaimana dulu masyakarat Bumijaya menjadi ‘maestro’ gerabah Nusantara.

“Dulu perajin gerabah di Bumijaya ada ribuan orang. Penjualan gerabah pun hingga ke mancanegara,” kata Suhaimi.

Australia, Asia hingga Amerika, kata Suhaimi, adalah pasar tetap bagi gerabah Bumijaya di masa keemasan. Di Indonesia, Bumijaya adalah tempat belajar bagi para perajin gerabah dari Pulau Dewata.

“Dulunya warga Bali pun mengambil dan belajar pembuatan gerabah di Bumijaya. Setiap bulan ribuan gerabah diangkut ke Bali, selain juga dipasarkan di Jakarta, Pulau Sumatera sampai ke Papua,” ungkap Suhaimi.

Biasanya kalau pembeli luar daerah banyak yang cari gentong besar, karena jarang ada di tempat yang lain.

“Jenis gerabah yang paling kecil hingga paling besar ada semua disini. Dan untuk harganya sendiri bervariasi mulai dari harga Rp 2 ribu sampai jutaan rupiah,” tegasnya.

Suhaimi menjelaskan, faktor bahan bakar turut menentukan harga gerabah. Gerabah yang dibakar menggunakan timah akan lebih mahal ketimbang dibakar secara alami. Penyebabnya, penggunaan timah membuat gerabah harus menjalani proses pembakaran hingga dua kali.

“Pembuatan gerabah tersebut membutuhkan waktu cukup lama. Untuk barang-barang kecil bisa sampai dua mingguan. Kalau untuk yang besar seperti gentong, kurang lebih satu bulan,” kata Suhaimi.

Faktor cuaca bisa mempengaruhi proses pembuatannya. Dikarenakan proses pengambilan tanah liatnya dan penjemuran. Untuk pembakaran secara manual pakai kayu dan jerami, tapi kalau pembakarannya pakai oven cukup pakai kayu.

Kelebihan gerabah Banten dibandingkan daerah lain, Suhaimi mengungkapkan, adalah mempertahankan tradisi. Perajin gerabah Bumijaya kebanyakan masih menggunakan cara-cara tradisional dalam pembuatan gerabah. Selain itu, perajin Bumijaya juga memproduksi gerabah berukuran besar, seperti gentong, yang jarang diproduksi di tempat lain.

Namun seiring berjalannya waktu penjualan gerabah mengalami penurunan. Suhaimi mengeluhkan masalah pemasaran gerabah yang dalam berberapa tahun terakhir menjadi kendala akut yang tak kunjung ditemukan solusinya.

“Belakangan penjualan sedang lesu, kita juga kesulitan memasarkannya,” ujar Suhaimi.

Selain kesulitan dalam memasarkannya, Banten sendiri justru mulai dibanjiri gerabah dari daerah lain.

“Sekarang banyak saingan dari daerah lain seperti Purwakarta, Bandung, karena gerabahnya sudah masuk Banten. Kalau untuk bantuan sih ada dari pemerintah daerah, namun untuk memasarkannya kita masih mengalami kesulitan,” tandasnya.

Lesunya pemasaran gerabah, sambung Suhaimi, ikut mempengaruhi pola hidup masyarakat Bumijaya. Bila dulu perajin gerabah di desa itu mencapai ribuan, kini jumlahnya berkurang drastis menjadi sekitar 250 perajin. ribuan ‘mantan’ perajin sepertinya enggan untuk terus menggeluti tradisi itu, karena sudah tak bisa lagi dijadikan sandaran hidup.

Suhaimi berharap, lesunya pasar gerabah bisa segera berakhir sehingga industri gerabah bisa menggeliat lagi. Dampaknya tentu saja, mengembalikan harkat gerabah Bumijaya kembali mendunia.

“Mudah-mudahan bisa bangkit kembali. Karena ini merupakan salah satu produk yang bisa mengharumkan nama Banten di mata dunia,” pungkas Suhaimi.(*)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: