Tangerang Economic Forum: Memelihara Iklim Investasi di Kota Hunian

Oleh: Airin Rachmi Diany/Walikota Tangerang Selatan

PERTUMBUHAN ekonomi di Tangerang Selatan (Tangsel) hingga saat ini masih didominasi oleh sektor property. Geliat usaha pengembang besar seperti Bumi Serpong Damai (BSD), Bintaro Jaya, dan Alam Sutera memilik peran cukup besar. Apalagi, ketiga pengembang ini sudah ada sebelum Kota Tangsel berdiri. Kontribusi mereka terutama dalam pendapatan asli daerah (PAD) dan bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) cukup besar.

Pemerintah Kota Tangsel sebagai regulator terus menjaga hubungan yang baik dengan para pengembang. Baik pengembang skala besar, sedang dan kecil. Kita memberlakukan kebijakan yang sama untuk semua pengembang, dan tidak ada sikap dan kebijakan yang membedakan.

Laju pertumbuhan ekonomi Tangsel menurut data BPS selalu berada paling tinggi di antara kota dan kabupaten di Banten. Pada 2016, laju pertumbuhan ekonomi mencapai 8,6 persen. Menjadi pencapaian tertinggi di Provinsi Banten. Sumber daya Tangsel juga sangat baik. Jumlah lulusan perguruan tinggi cukup besar. Ini menjadi modal bagi Tangsel untuk bisa bersaing dengan daerah lain.

Tantangan kita ke depan, untuk pengembangan kawasan sepertinya sudah tidak ada lahan di Tangsel. Ada prediksi dari kalangan DPRD, 2024 pengembangan kawasan akan stagnan. Maka dilihat dari sisi investasi, mereka akan ekspansi ke Kabupaten Tangerang. BSD misalnya, seluruh pengembangan propertynya di wilayah Tangsel sudah hampir selesai. Demikian juga dengan Alam Sutera yang ekspansi ke Kota Tangerang.

Kini, investasi justru datang dari pihak ketiga atau para investor yang akan memanfaatkan kawasan komersil yang disediakan pengembang. Bisa membuka kantor, membuka gerai ritel atau pertokoan, hotel dan sejumlah usaha lain di kota ini. Kehadiran mereka inilah yang akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Nah, guna terus mendorong dan mempercepat investasi, Pemkot Tangsel membuka perizinan online yang digawangi oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Dengan online, para calon ivestor akan lebih mudah dan cepat dalam mengurus berbagai perizinan.

Sebetulnya, meski tidak ada pengembangan kawasan baru di Tangsel, namun property masih akan tetap membawa sumber PAD bagi daerah. Salah satunya dari PBHTB transaksi penjualan kedua, ketiga dan keempat. Transaksi jual beli residen dan komersil tetap akan banyak terjadi. Ini akan menjadi pemasukan bagi daerah. Jadi tidak berpengaruh bagi daerah, meski tidak ada pengembangan kawasan baru.

Pemkot Tangsel juga menargetkan agar iklim investasi di kota ini terus tumbuh. Masyarakat juga harus menciptakan iklim yang kondusif agar investor merasa nyaman dan betah membuka dan mengembangkan usaha di Tangsel. Kita bekerjasama dengan Polres Tangsel untuk menciptakan stabilitas keamanan dan ketertiban. Aspek ini juga sangat penting bagi para pengusaha. Kepastian hukum dan ketertiban, menjadi salah satu syarat datangnya investasi.

Syarat lain agar investasi tumbuh adalah daya dukung infrastruktur. Salah satunya adalah jalan-jalan baik yang menjadi tanggungjawab pemkot, jalan provinsi, jalan nasional dan jalan di wilayah perumahan. Pemkot juga menunggu pengalihan aset jalan dari perumahan sehingga tanggungjawab pemerliharaan jalan itu menjadi tugas pemerintah daerah.

Pengembang besar, sedang dan kecil juga sudah menyerahkan sejumlah aset jalan kepada Pemkot Tangsel. Dengan status yang jelas ini, maka pemerintah bisa mengintervensi pemeliharaan menggunakan APBD.

Ke depan kita tetap akan konsisten mengembangkan kota residensial dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang pasti sebagai kawasan pemukiman. Kita tidak mau tiba-tiba mengijinkan pabrik-pabrik besar berdiri. Sudah pasti nanti akan membuat orang tidak nyaman. Ini akan kita pertahankan ke depan. Selamat bekerja…!

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: