Tangerang Economic Forum: Geliat Investasi di Kota Industri

Oleh: Ahmed Zaki Iskandar/Bupati Tangerang

KABUPATEN Tangerang selalu menjadi tujuan utama investasi di Provinsi Banten. Laporan BI Banten menyebutkan, pada kuartal III 2017, Kabupaten Tangerang menjadi kawasan tertinggi dalam investasi, mencapai Rp1,8 triliun. Disusul oleh Kota Cilegon Rp930 miliar lalu Kota Tangerang sebesar Rp640 miliar. Dari data tersebut, investasi di Kabupaten Tangerang lebih banyak berasal dari dana investasi dalam negeri. Sektor usaha terbanyak di bidang real estate dan industri pengolahan.

Tingginya investasi ini disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, proses perizinan usaha dan ivestasi yang semakin mudah dan cepat. Kabupaten Tangerang telah membuka proses perizinan usaha secara online. Para pengusaha atau investor tidak harus datang dan antre ke kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), cukup buka komputer dan internet, perizinan sudah bisa diproses.

Sejumlah perizinan yang dianggap menghambat dan birokratis, memang sudah dipangkas sesuai instruksi dari pemerintah pusat. Peraturan perizinan dikeluarkan oleh pemerintah pusat, sedangkan pemerintah daerah menjadi pelaksana. Sebagai pelaksana kita dituntut untuk memaksimalkan pelayanan demi terciptanya investasi yang baik.

Penyederhanaan proses perizinan yang digencarkan pemerintah pusat lewat berbagai paket kebijakan ekonomi, telah lebih disederhanakan lagi oleh Pemkab Tangerang. Sehingga prosesnya semakin cepat dan makin mendorong para pengusaha untuk membuka usaha mereka di kawasan ini.

Faktor kedua, Kabupaten Tangerang memiliki lahan luas. Sehingga sektor usaha yang potensial dikembangkan di kawasan ini adalah hunian, komersil dan industri. Saya tengah menjalankan program pengembangan kawasan kota industri baru sebagai pusat pertumbuhan ekonomi. Dalam sebuah teori ekonomi disebutkan, jika ada pusat kegiatan ekonomi, maka semakin lama kegiatan itu akan meluas dan mendorong pertumbuhan di wilayah sekitarnya.

Kota industri memiliki konsep lebih luas. Ia mengintegrasikan hunian, komersil dan industri dengan konsetrasi penduduk yang tinggi dan konektivitas yang baik dengan daerah-daerah sekitar. Seluruh aktivitas diharapkan bisa menjadi multiplier effect dan pengaruh pengumpulan kekuatan (polarisasi) sumber daya lokal yang sangat besar. Pada akhirnya, akan mensejahterakan masyarakat, menyerap tenaga kerja yang tinggi dan meningkatkan PAD.

Jika kawasan hunian dibangun, maka di sana akan muncul kebutuhan pedukung lainnya, seperti sekolah, rumah sakit, penyediaan air dan listrik, insfrastruktur jalan, pasar, perbankan dan jasa-jasa lainnya. Dengan konsep itu, maka pertumbuhan ekonomi di setiap wilayah akan semakin merata. Dan pada kenyataannya di Kabupaten Tangerang, pertumbuhan dan geliat ekonomi tersebut merata di setiap kecamatan.

Faktor kegitga, Kabupaten Tangerang di satu sisi juga diuntungkan sebagai daerah penyangga ibukota. Dengan demikian, kebutuhan hunian serta perkantoran atau industri bisa disediakan oleh Tangerang. Industri pengolahan sudah lama menjadi penopang pertumbuhan ekonomi kawasan ini. Saat ini, dari data BI Banten, ekspor industri pengolahan terutama alas kaki, kimia dan teksil pada 2017 mengalami peningkatan.

Sektor hunian juga terus bergeliat dengan masuknya pengembang skala besar, menengah dan kecil. Tinggal lagi-lagi, sarana pendukung ke hunian tersebut harus disiapkan. Misalnya, pembangunan Jalan Tol Serpong- Balaraja ini tentu akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi wilayah sekitar. Pengembang harus menyiapkan konsep hunian Transit Oriented Development (TOD). Dengan konsep ini para pengembang harus membangun pemukiman yang menyatu dengan sarana transporasi publik. Bisa kereta api, terminal bis atau transportasi lainnya.

Pengembangan untuk kawasan industri juga dikembangkan. Saya sudah memetakan sejumlah kawasan untuk pengembangan industri. Antara lain, kawasan industri Milinium, Kawasan Cikupa Mas, Kawasan Industri Balaraja, Kawasan Industri Laksana Bisnis Park di Pakuhaji, dan kawasan Industri Cileles. Semua izin industri yang belum existing harus masuk ke dalam kawasan industri yang sudah ditentukan. Sambutan para pengusaha pun cukup baik.

Infrastruktur pendukung kawasan tersebut juga harus disiapkan. Misalnya, pelebaran jalan yang bisa dilewati kendaraan niaga ukuran besar. Jaringan listrik dan air, dan pengolahan limbah agar lingkungan terjaga. Sarana komunikasi seperti jaringan telepon dan internet juga harus maksimal. Jadi semua konsep akan teringrasi secara menyeluruh. Tidak hanya membangun pergudangan, namun jalannya tidak diperlebar. Eksekusi terhadap program ini memang harus berkelanjutan. Mudah-mudahan tahun ini, seiring dengan membaiknya ekonomi global dan daya beli masyarakat yang diprediksi akan naik, pertumbuhan ekonomi di Tangerang semakin baik. Selamat tahun baru…! (Tim BP/SN/TP)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: