58 Pasutri Laksanakan Nikah Massal di Polres Serang Kota

Kapolres Serang Kota, AKBP Komarudin didampingi isteri menyaksikan Sidang Isbat nikah di Halaman Mapolres Serang Kota, Jalan Ki Masjong, Kota Serang, Jumat (17/11/2017) / RULIE SATRIA

SERANG, BANPOS – Sebanyak 58 pasangan suami istri (pasutri) yang belum memiliki buku nikah, mengikuti Isbat Nikah atau nikah massal yang digelar oleh Polres Serang Kota, di halaman Polres Serang Kota, Jumat (17/11/2017).

Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka bakti sosial Bhayangkari guna mewujudkan keluarga harmonis, sejahtera dan berkualitas di lingkungan Bhayangkari cabang Serang Kota.

Kapolres Kota Serang AKBP Komarudin yang ditemui di sela-sela kegiatan mengatakan bahwa, masih banyak masyarakat yang belum paham akan arti penting dari sebuah akte nikah.

“Dalam hal ini, Polres Serang Kota berkewajiban untuk melindungi masyarakat Indonesia, termasuk memberikan jaminan dan kepastian hukum. Kepastian hukum tersebut salah satunya meliputi memiliki hak-hak yang sama dalam memiliki surat nikah,” ujar Komarudin.

Komarudin menambahkan, saat ini masih banyak masyarakat khususnya di lingkungan Polres Serang Kota, yang melaksanakan aktifitas pernikahan hanya sekedar syariat agama, tapi tidak dilengkapi dengan akte nikah atau terdaftar di Pengadilan agama.

Untuk itu, dirinya menghimbau kepada masyarakat Kota Serang untuk melakukan pernikahan sesuai kententuan administrasi yang berlaku, yaitu dengan melibatkan KUA agar pernikahannya terdata dan sah secara negara.

“Apa lagi sekarang nikah di KUA gratis. Jadi kegiatan ini diharapkan masyarakat menyadari pentingnya administrasi dan mendapat kepastian hukum dari negara, sehingga ke depan masyarakat terdata dan mudah dalam mengurus hal-hal yang berkaitan dengan hukum dan lainnya,” ucapnya.

Ditempat yang sama, Ketua Pengadilan Serang, Dalih Effendy menyebutkan bahwa masyarakat pasangan suami istri yang berada diwilayah Kota dan Kabupaten Serang, masih banyak yang belum memiliki buku nikah.

Hal ini lantaran kesadaran masyarakat untuk meresmikan pernikahan secara sah menurut negara masih kurang. Apalagi, masyarakat masih mempunyai sikap bahwa nikah yang penting di depan kiai atau ustadz.

“Berdasarkan pendataan, saat ini di setiap kelurahan dan desa pasti ada sekitar 50 sampai 100 warga yang belum memiliki buku nikah, ini menjadi tugas kita, termasuk menggelar secara rutin sidang isbat massal.”

Dalam kesempatan itu, Effendi sangat bersyukur dengan diadakannya kegiatan tersebut, karena antusiasme masyarakat untuk memperoleh pengakuan secara sah menurut negara sangatlah tinggi.

“Padahal buku nikah merupakan persyaratan penting dalam mengurus administrasi di pencataatan sipil. Akibatnya kalau tidak memiliki buku nikah, anak-anak mereka tak memiliki dokumen akte kelahiran secara lengkap. Sementara akte kelahiran penting buat ke depannya,” ungkapnya. (RUL)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: