Angkat Nilai Gotong Royong di Program JKN-KIS, Sulis Tianinggsi: Saya Ikhlas

Sulis Tianinggsi, Peserta JKN-KIS Mandiri yang siselenggarakan BPJS Kesehatan, saat berfoto didepan warung miliknya di jalan Rumah Sakit Umum, Cipare, Kec. Serang, Kota Serang / RULIE SATRIA

SERANG, BANPOS – Berawal dari adanya informasi melalui media massa akan program pemerintah yang memberikan jaminan pelayanan kesehatan ke masyarakat, membuat Sulis Tianinggsi (52 tahun) mencoba mendaftarkan diri sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang diselenggarakan BPJS Kesehatan, pada Maret 2016 lalu.

Sejak menjadi peserta JKN-KIS, wanita yang biasa disapa Ibu Ade ini mengaku belum pernah memanfaatkan haknya sebagai peserta JKN-KIS. Kendati begitu, ia dan beserta keluarga selalu membayar iuran JKN-KIS tiap bulannya, bahkan tak pernah terlambat.

Ia yakin, ‘tabungan’ iurannya tersebut lebih dapat bermanfaat jika digunakan untuk membiayai peserta lainnya yang membutuhkan.

“Saat ini, saya sudah terdaftar sebagai peserta JKN-KIS Mandiri kelas 1 sejak Maret 2016 lalu. Selama menjadi peserta, saya dan keluarga belum pernah menggunakan hak kami sebagai peserta JKN-KIS. Saya tetap membayar iuran tiap bulan, karena itu memang suatu kewajiban,” ungkap Ade yang ditemui diwarungnya miliknya, di jalan Rumah Sakit Umum, Cipare, Kec. Serang, Kota Serang, Banten, samping Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Dradjat Prawiranegara, Serang.

Sulis Tianinggsi kembali menerangkan, “Jadi walaupun tidak dipakai, nggak masalah. Malah bagus, itu karena iuran kami jadi bisa dimanfaatkan membiayai yang sakit, yang pastinya lebih membutuhkan”.

Sulis Tianinggsi mengaku, jika dirinya cukup menyayangkan terhadap sikap sebagian masyarakat yang masih belum sadar akan kewajiban membayar iuran JKN-KIS.

Ia pun menyoroti pengetahuan masyarakat yang masih kurang soal program JKN-KIS. Padahal menurutnya, sosialisasi mengenai JKN-KIS tersebut telah begitu sering digaungkan BPJS Kesehatan melalui berbagai media informasi.

“Masyarakat kita kesannya kurang informasi, padahal kita bisa aktif gali sendiri. Contohnya soal denda itu. Saya pernah tanya, rata-rata alasannya lupa bayar iuran karena tidak dipotong langsung dari penghasilan mereka. Padahal saat ini untuk melakukan pembayaran iuran bisa menggunakan layanan autodebet dan nggak perlu ke ATM atau ke tempat lainnya. Kalau kita aktif cari informasi, sebetulnya semua sudah disediakan, misalnya menelpon ke call center 1500400,” tuturnya.

Menurut Sulis Tianinggsi, program JKN-KIS mengangkat nilai-nilai gotong royong yang menjadi tradisi masyarakat Indonesia sejak lama.

Oleh karena itu, seluruh masyarakat diharapkan dapat bahu-membahu menolong peserta yang membutuhkan pelayanan kesehatan melalui program JKN-KIS ini.

“Kalau mampu ya harus bayar, jangan sampai menunggak. Kan kasihan juga bagi yang sakit. Kalau nggak bayar iuran, BPJS Kesehatan dari mana dananya untuk membiayai mereka yang sakit?” ungkapnya.

Sebagai pengalaman, Sulis Tianinggsi pernah merasakan manfaatnya sebagai peserta JKN-KIS, meski itu dialami oleh anaknya yang telah beda Kartu Keluarga (KK). Saat anaknya melahirkan dan menjadi peserta JKN-KIS, semua proses pembiayaan persalinan dan pengobatan ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan.

“Sangat besyukur anak saya mendaftar sebagai peserta JKN-KIS, kalau saat itu belum mendaftar, mungkin sudah habis puluhan juta untuk proses persalinan,” Sulis Tianinggsi mengakhiri. (RUL)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: