Kepsek SDN Ciceri Indah Bantah Bisnis Jual Beli Buku

Ilustrasi

SERANG, BANPOS – Kepala Sekolah SDN Ciceri Indah, Asri Yussi Hanurani, membantah adanya dugaan jual beli buku di sekolahanya.

Untuk itu, ia menegaskan isu mengenai hal tersebut tidak benar, dan yang terjadi hanyalah kesalah pahaman antara guru dan wali murid dalam penyampaian. Hal tersebut di sampaikan oleh Asri Yussi saat dalam perbincangan antara sekolah dan wali murid di ruang guru SDN Ciceri Indah, Rabu (11/10).

“Tidak benar. Ini cuma salah komunikasi dalam penyampaian dari murid kepada orang tuanya saja,” katanya.

Meski begitu, Asri mengakui pihaknya menyarankan kepada wali murid agar membeli dua buku mata pelajaran sesuai kebutuhan masing-masing kelas. Untuk mendapatkannya, orang tua dapat mencari di toko buku, maupun menghubungi sekolah.

“Iya, kami anjurkan agar beli buku. Kalau tidak mau, tidak usah. Itu pun bisa beli di toko buku,” ungkapnya.
Menurut Asri, hingga saat ini hanya beberapa siswa yang mengikuti anjuran tersebut. Sebab, pihaknya tidak memaksa, hanya menganjurkan saja guna memudahkan para siswa dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).

“Setiap kelas paling tidak sampai setengahnya yang beli. Itu juga kebanyakan beli di toko buku, bukan ke sekolah,” jelasnya.

Terlebih, kata Asri, Pihaknya sejak 2014 selalu mengacu terhadap kebijakan Walikota Serang serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Serang mengenai larangan menjual buku. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan itu, telah dialokasikan sebanyak 20 persen dari Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Sesuai perintah pak Walikota dan dindikbud, sekolah tidak boleh menjual buku. Sebab, untuk pembelian buku kan udah dialokasikan dari dana BoS. Tapi, bukunya di inventariskan di sekolah. Agar terjaga keutuhannya, buku-buku paket pelajaran itu hanya di gunakan di Sekolah saja tidak untuk di bawa pulang,” tegas Asri.

Sementara itu, salah seorang wali murid, Tuti membenarkan hal itu. Sebab, hingga saat ini anaknya belum membeli buku. Namun hal itu tidak menjadi persoalan, karena banyak siswa yang juga tidak mengikuti anjuran tersebut. Bahkan, kata dia. Untuk kelas satu hampir seluruhnya tidak membeli buku.

“Iya benar gak dipaksa. Saya belum beli karena saya pikir belum dibutuhkan, cuma untuk membantu saja, tidak wajib,” tandasnya. (RUL)

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: